Sahabatku...aku telah menerima suratmu dalam suasana bahagia nan mengharu biru. aku tidak menyangka itu adalah dirimu, yang datang bersama angin musim dingin untuk menyapaku.
Engkau memang sahabatku yang selalu ada dalam setiap kondisiku, dan saat ini engkaupun bisa merasakan galaunya hatiku... sungguh ini suatu Rahmat dari Allah yang telah menggetarkan aliran rasa di hati kita, apa yang kurasakan engkau pun merasakannya jua. mudah-mudahan bukan saja kegalauanku yang bisa kau rasakan tetapi juga kebahagiaanku yang mestinya menjadi kebahagiaanmu.
Sahabatku, kalau boleh aku jujur kepadamu, ketakutanku bukanlah pada kesendirianku karena aku yakin Allah dan malaikatnya selalu mengawasiku, ketakutanku bukan pada bekunya suasana di musim dingin ini, karena doa-doa yang selalu engkau panjatkan untukku telah menghangatkan jiwaku. ketakutanku bukan pula pada kegagalan yang mungkin akan aku temukan di hadapanku nanti, karena bagiku kegagalan adalah bagian dari tahapan saja untuk mencapai kesuksesanku. Entahlah apakah ini ketakutan sebagaimana yang engkau katakan, ataukah ini kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, ataukah ini sekedar luapan perasaan yang terkadang naik dan kadang-kadang turun, sebagaimana keimanan kita yang "yaziidu wa yankusu". tetapi yang jelas sahabatku, pesanmu telah meredakan tangisku, dan mengembangkan senyumku.
Sahabatku,
Saat ini kita terpisah jarak yang begitu jauh, sehingga kita merasa kesulitan untuk saling mengunjungi. Namun sahabat..., jauhnya jarak tidak serta merta membut kita berbeda, kita tetap sama sahabatku, sama dalam keimanan, sama dalam nilai, dan sama dalam tujuan. Ingatkah engkau ketika aku membisikkan sesuatu di telingamu menjelang perpisahan kita? Bahwa keberangkatan kita ke negeri-negeri jauh, bukanlah semata-mata untuk mencari kesuksesan hidup dan kebahagiaan kita sendiri. keberangkatan kita adalah semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT, untuk menjadi qudwah bagi anak-anak kita dan generasi-generasi yang akan datang, serta untuk memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini, yaitu nilai-nilai Islam yang mulia. karena menurutku kehidupan seorang muslim adalah memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini, tanpa nilai-nilai yang kita yakini kita seperti seonggok jasad tanpa kemuliaan.
Sahabatku, kalau boleh jujur kepadamu... pada awalnya kesendirianku cukup berat dirasakan. Lingkungan baru, suasana baru, orang-orang yang baru, yang semuanya berbeda dengan duniaku sebelumnya. jauh dari orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku. tetapi kabar bahagia dari mereka dan darimu, selalu menjadi penguat langkahku. dan akupun sadar sesadar-sadarnya, bahwa beratnya langkah yang harus kutempuh saat ini tidaklah berarti dibandingkan dengan langkah para Shohabat Nabi yang mulia, mereka terusir dari kampung halamannya dan dihinakan oleh orang-orang dzalim di sekitarnya.
Sebagai penutup untuk suratku ini, aku ingin engkau tahu bahwa akupun selalu medoakan kebaikan bagimu. mendukungmu atas semua langkah-langkahmu. Pesanku untukmu sahabat, Janganlah risau atas keadaanku, sepanjang aku masih menggenggam erat agamaku. Semoga Allah SWT senantiasa mengiringi langkahku dan langkahmu, sahabatku.
Autumn,
Dalam keheningan
2 komentar:
Kamu adalah sahabatku...
seperti yang lainnya yg tak terlupakan, yg mengisi hidupku.
Kapan kita berjumpa.... ? InsyaAllah ....
makasih mas atas kehadirannya... yap you are one of my best friends..
Posting Komentar