Selasa, November 18, 2008

Manifestasi Cinta

Cinta,
Begitu orang menyebutnya
Syahdu untuk diucap
Lembut untuk dirasa
Dengan cinta semua tampak mempesona

Bila si jantung hati yang terucap
Cinta terkadang tak mampu merasa
Hal-hal wajar dianggap memikat
Bahkan gula jawa terasa coklat

Cinta, begitu orang menyebutnya, temanya seakan tak pernah habis untuk dibicarakan, tak pernah lekang untuk dikisahkan, tak pernah basi untuk didiskusikan. Semua orang hidup pasti pernah merasakannya dan pernah melakonkannya. Ada yang bahagia karenanya ada pula yang bersedih. Kebahagiaan muncul tatkala cinta mendatangkan perasaan senang, karena hal-hal yang dicintainya. Ibu terlihat bahagia melihat kelucuan anak-anaknya, suami bahagia disambut senyum selepas kerja oleh istri tercinta. Cinta juga kadangkala mendatangkan kesedihan bilamana yang dicintainya jauh dari harapannya. Ibu akan bersedih bila anak-anak yang tiada henti dinasehati menjadi anak yang kurang ajar, suami kecewa bila sepulang kerja disambut istri dengan omelan yang berkepanjangan.

Cinta kehadirannya amat disukai oleh manusia, karena tanpanya hidup ini terasa menderita. Tanpa kehadirannya jelas kita tidak pernah ada. Adanya manusia karena cinta. Perpaduan kasih antara Adam dan Hawa telah menghantarkan kelestarian manusia hingga saat ini. Kita terlahir kedunia juga atas nama cinta, cinta kasih yang terjalin antara ibu dan bapak kita. Tanpa cinta mustahil kita ada dengan sendirinya. Tidak hanya manusia, cinta juga dibutuhkan oleh semua mahluk Allah. Binatang misalnya, mereka membutuhkan cinta untuk mengasuh anak-anaknya, bahkan perburuan binatang buaspun atas dasar cinta, yaitu kecintaan untuk memberikan makan kepada anak-anaknya. Cinta adalah motivator kuat untuk kelangsungan hidup manusia, cinta mengarahkan dan membimbing manusia untuk saling kenal, menolong dan bekerjasama.

Dalam Islam cinta itu fitrah, suci dan bersih yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya. Dengan cinta senandung ibu dapat meninabobokan anak-anaknya, bayi bisa tersenyum tulus ketika tangan lembut membelainya, ayah rela bekerja giat membanting tulang demi melihat kebahagiaan anak dan istrinya. Tanpa cinta dunia akan hancur, satu sama lain saling bermusuhan. Peperangan-peperangan tidak dapat dihindarkan. Tawa riang dan canda akan hilang berganti dengan tangisan duka nestapa.

Cinta memiliki kemapuan dahsyat dalam membangkitkan motivasi manusia. Merubah rasa takut dengan keberanian, merubah rasa malu dengan keyakinan, merubah kebencian dengan kasih sayang, menundukkan tatapan mata tajam dengan mata penuh uraian airmata. Cinta dapat merubah rasa dan kualitas rasa. Meskipun semua orang hampir berpendapat sama yaitu susah mendefinisikannya, namun mereka sepakat ada rasa yang berubah. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dua orang yang dulunya berkawan biasa, kini setelah cinta hadir diantara keduanya, menjadikan perubahan besar dalam hubungan mereka.

Demikian hebatkah cinta? Sehingga Zulaikhah tidak merasakan sakit ketika tangannya teriris hingga mengucurkan darah sewaktu melihat wajah Nabiyullah Yusuf Alaihissalam. Sehingga (dalam berbagai kasus) seorang suami/istri rela meninggalkan istri/suami dan anaknya untuk memilih jatuh kepelukan orang lain? Sehingga Bandung Bondowoso menyanggupi untuk membangun candi Prambanan dalam satu malam demi kekasih pujaannya Roro Jonggrang? Sehingga Sangkuriang menjadi gelap mata sampai-sampai mencintai ibu kandungnya? Sehingga ibu-ibu rumah tangga rela tidak memasak demi asyiknya menonton cerita cinta telenovela? Atau sehingga singgasana Allah bergetar tatkala Shahabat Sa’ad bin Mu’adz sang kekasih Allah wafat di medan jihad?

Iya, cinta akan membuat hidup lebih hidup. Banyak yang telah merasakannya. Seorang remaja yang sedang jatuh cinta rela mengorbankan waktunya berlama-lamaan dengan kekasih pujaannya. Ayah dengan tekun berangkat kerja, tak gentar menerobos hujan-petir demi menghapus airmata kesedihan anak dan istrinya. Praktis cinta memberikan kekuatan yang luar biasa. Cinta juga memberikan inspirasi bagi para penulis dan pujangga untuk menorehkan karya-karyanya. Para orang tua seringkali menjadikan cinta sebagai landasan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Diajarkannya sang anak membaca, menulis, berhitung dan sebagainya, itu semua karena landasan kasih sayang. Orang tua merasa bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya. Bahkan dipilihnya sekolah-sekolah yang bagus dan mahal, serangkaian kursus yang melelahkan, agar sang anak yang dicintainya dapat memperoleh bekal pendidikan yang memadai.

Cinta tidak selalu berproses secara menyenangkan, cinta kadangkala pahit untuk dirasakan oleh objek cinta. Ada orang tua yang seringkali dianggap kontraproduktif oleh anaknya. Mereka memberikan perintah dengan membentak, marah, bahkan memukul anaknya konon atas dasar cinta. Ketika sang anak dipukul karena kenakalannya, dan melakukan protes kenapa dirinya dipukul, orang tua beralasan itu dilakukannya semata-mata karena cinta orang tua kepadanya. Seorang guru yang memberikan nilai tidak memuaskan kepada muridnya didasari juga oleh cinta. Menurutnya itu dilakukan semata agar mahasiswa lebih rajin dan giat dalam menuntut ilmu. Pasangan suami istri konon juga ada yang rela bercerai atas dasar cinta. Sang suami/istri mengatakan bahwa berpisahnya mereka semata-mata agar mereka tidak saling menyakiti lagi, agar anak-anak tidak bingung dengan perbedaan pandangan orang tuanya.

Praktis cinta memiliki banyak sisi dan dimensi. Semua perilaku manusia juga dapat dikatakan manifestasi cinta, apapun perilakunya. Baik yang enak maupun tidak enak dirasa. Karena motivasional perilaku bukan dari apa yang tampak melainkan dari bagaimana yang diinginkan oleh pelakunya (niat).

Ba'da Dzuhur

Tidak ada komentar: