Rabu, November 26, 2008

Mendekat Titik Terakhir

hidup bagaikan garis lurus
tak pernah kembali ke masa yang lalu
hidup bukan bulatan bola
yang tiada ujung dan tiada pangkal
hidup ini melangkah terus
semakin mendekat ke titik terakhir
setiap langkah hilanglah jarak
menikmati hidup, menikmati dunia


Satu bait lirik lagu bimbo di atas menasehati kita agar kita selalu menyadari eksistensi hidup kita. tugas-tugas kita, tanggungjawab kita dan masing-masing peran kita.

Setiap detik yang berlalu sebenarnya berlalu pula usia kita. karena detik yang berlalu itu semakin mendekatkan kita kepada titik terakhir, yaitu titik dimana semua catatan hidup kita akan berhenti. titik yang memutuskan mata rantai kenikmatan, menceraiberaikan kebersamaan antara anak dengan orang tua, antara suami dengan istri, antara sahabat dengan sahabat, antara kita dengan semua orang yang kita kasihi. Kita sering lupa bahwa titik yang akan datang itu, tidak akan terjadi dalam kehidupan kita.

Usia kita seringkali tiada disadari pertambahannya, yang kita rasakan hanya sekedar menjalani hari-hari dengan segala aktivitas-aktivitas yang padat. tanpa dirasakan kita baru sadar bahwa sisa hidup kita tinggalah sebentar. baru kemarin rasanya kita mengenakan seragam merah-putih, berganti biru-putih, lalu berganti abu-abu-putih, tiga tahun kemudian kita kuliah, empat tahun kemudian kita bekerja, lalu menikah, memiliki keturunan dan seterusnya. tahapan-tahapan yang kita lalui serasa cepat jalannya. belum lama kita merengek minta uang jajan atau bayar spp kepada orang tua, kini kita sudah menjadi orang tua yang giliran direngeki oleh anak-anak kita.

Kata Bimbo setiap langkah hilanglah jarak kita dalam menikmati hidup, dan menikmati dunia. belum lama rasanya gigi geligi kita begitu kuat menggerus makanan-makanan keras, dan hampir semua yang bisa dimakan kita mampu memakannya, namun kini semua kebebasan menikmati makanan tersebut mulai berkurang. dulu derasnya hujan tidak kita hindari, justru kedatangannya amat dinanti. kita bisa bertelanjang dada untuk berlari-lari kesana kemari seirama dengan derasnya air yang turun, kini jangankan bermain air hujan, kepala terkena sedikit air hujan saja membuat kita pusing, masuk angin, dan sebagainya. ingin rasanya kita bisa mengulang keasyikan-keasyikan di masa kecil, namun ternyata fisik kita tidaklah sekuat keinginan kita untuk melakukannya.

Pada usia yang kini berstatus sebagai orang tua, kita merasakan bahwa hidup di dunia ini tidaklah lama, yang lama adalah masa penantian kita di alam barzah, penantian terhadap hisab dan kekekalan kehidupan sesudahnya. Semua datang silih berganti. belum lama kita menjadi seorang anak yang memiliki ayah dan ibu, memiliki kakek dan nenek bahkan kakek dan nenek buyut. kini peran mulai bergeser, kitalah saat ini yang menjadi orang tua dari anak-anak kita, dan orang tua kita bergeser pula kedudukannya sebagai kakek dan nenek dan seterusnya. bahkan dulu semua orang memanggil kita "dik" lalu menjadi "mas", kini setelah kita memiliki anak dan seiring dengan bertambahnya usia, status sosial-pekerjaan serta berubahnya performansi kita, orang-orang mulai memanggil kita "pak" dan "bu", yang artinya bahwa kita sudah dianggap orang dewasa. Panggilan "mas dan mbak" yang dulu selalu melekat di depan nama kita, kini tidak kita sandang lagi. dan tentunya pada gilirannya nanti sebutan "pak dan bu" inipun akan berubah pula.

Hidup memang tidak lama, oleh karena itu sekiranya dalam hidup ini kita mengalami kepahitan atau kekurangberuntungan di bandingkan dengan orang-orang lainnya, barangkali kita tidak perlu berduka cita, karena itu semua tidak akan berlangsung lama. oleh karena itu bagi kita yang "dianggap beruntung" harus memahami kesementaraan keberuntungan itu. Jangan sampai "keberuntungan" itu membuat kita terlena di dalamnya. Dan bagi yang merasa "kurang beruntung" kita harus yakin bahwa kalau kita ikhlas menerimanya, semua akan menjadi kebaikan buat kita.

Statenlaan,
Akhir November

Tidak ada komentar: