Sabtu, Mei 07, 2011

Tebing Betapa Curam Jurang Betapa Dalam, Tak Tampak Keduanya

Sidang uji materi UU No 1/PNPS/ Tahun 1965 tentang Pencegahan Penodaan/Penistaan Agama di MK pada Rabu 24 Maret 2010. Pemohon: Musdah Mulia, Dawam Raharjo. Dkk, di jawab secara apik dengan puisi oleh Taufik Ismail.



TEBING BETAPA CURAM JURANG BETAPA DALAM, TAK TAMPAK KEDUANYA

Desa kami terletak di kaki gunung yang sangat indahnya
Berpagar perbukitan dengan deretan pohon cemara
Sawah luas terhampar, hijau muda dalam warna
Ladang palawija sangat subur pula keadaannya
Dari jauh tampak ternak kerbau, sapi, ayam dan domba
Kemudian kawanan burung terbang di udara
Tampak menembus awan tak bersuara

Walaupun alam desa kami indah keadaannya
Tapi kami belum makmur sesuai dengan cita-cita
Kemiskinan tidak teratasi seperti semestinya
Berbagai penyakit datang dan pergi bergantian saja
Beri-beri, diare, cacar, busung lapar, juga penyakit mata
Anehnya banyak warga sakit katarak dan radang glaukoma
Sehingga banyak yang rabun bahkan sampai buta
Sehingga dokter Puskesmas sibuk mengobati warga desa

Di barat desa ada sebuah tebing yang curam
Dibatasi sebuah lingkaran oleh jurang yang dalam
Di atas tebing itu terhampar datar lapangan lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil berkejar-kejaran dengan leluasa
Bermain-main, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa

Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, sudah tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana

Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuni lembahnya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya

Nah, pada suatu hari
Ada sebagian kecil penduduk desa berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang di usahakan harmoni

“kami menolak pagar itu, apa pun bentuknya
Pagar itu kan untuk anak-anak di bawah usia
Itu tak perlu untuk kami yang dewasa
Bahkan juga untuk anak-anak biarkan saja
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Tidak peduli alasan lama kalian dari zaman kuno
Pagar ini produk fikiran masa dahulu sudah lama
Cabut pagar itu, buang ke keranjang sampah saja

Pagar tebing itu adalah bentuk diskriminasi kuno
Kini waktunya orang menghargai kebebasan sebebas-bebasnya
Seperti negeri luar yang sangat maju keadaannya
Kita harus meniru negeri luar agar maju pula

“Apa itu pagar? Kenapa pelataran ini dibatas-batas?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kebebasan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!”

Demo itu berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, lho, ini ada apa?
Kok jadi tegang suasana?

Ada yang bersikeras mau mencabut pagar semua
Tapi yang bertahan tidak sudi membiarkan mereka
Di tepi tebing beregang-reganglah mereka
“Hei, hei, hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!
Hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!
Mendadak mereka berhenti bersama

Ketika itu muncul seorang laki-laki dengan pengiringnya
Dia kelihatan tua dan agak berwibawa
“para hadirin, ini Nabi kami.”
Orang-orang desa terkejut, mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang perempuan dengan ajudannya
Bergaun panjang, berhiasan macam-macam di kepalanya
“Para hadirin, ini Malaikat kami.”
Orang-orang desa terkejut,mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang laki-laki dengan pengawalnya
Dia kelihatan tua dan tidak berwibawa
“Para hadirin, ini Tuhan kami.”

Dengan kedatangan tiga orang luar ini
Penduduk desa jadi sibuk mengamati
Kemudian ada warga yang mengajukan interogasi
“Lho Pak Nabi, ente kan dari desa Gunung Bunder, tidak jauh dari sini?
Waa, Bu Malaikat, rumahnya di Betawi kan dekat gang Arimbi?”
Tidak ada jawaban sama sekali.

Menyaksikan hadirnya yang mengaku Tuhan, Nabi dan Malaikat
Lalu seseorang berkata dengan cermat:

“Kita bingung ini dan harus mendapat solusi.
Mari kita hubungi orang yang ahli!
Yang ahli itu pastilah orang luar negeri
Yang jago dalam teori dan kita kagumi
Dengan terorika penuh erudisi
Yang penting liberal, walau kolonial, kita tak peduli
Sehingga mata kita jadi silau sama sekali
Tunggu, tunggu, tak ada hubungan ini
Dengan mental orang bekas jajahan koloni
Tidak ada hubungan ini
Dengan imperialisme ideologi
Tidak ada hubungan ini
Dengan sikap mental rendah diri
Ini semata-mata, semata-mata, ulangi
Ya, semata-mata, yak arena ini.”

Setelah selesai ucapan yang kacau begini
Hadirin yang tadinya tenang, menjadi ribut kembali
Kembali beregang-regang, tarik-tarikan ke sana ke sini

Tiba-tiba di ujung keributan ini
Munculah dokter Puskesmas penuh wibawa
Bersama seorang anak muda disampingnya
Dia melihat ke kanan dan ke kiri
Ketika itu penduduk desa tenang semua.
Kemudian dia angkat bicara:
“Saya telah melihat demonstrasi kalian
Saya kecewa dengan geleng-geleng kepala
Kalian semua pasien saya

Lebih dari separuh kalian kena kelainan pada mata
Kalau tidak rabun, ya buta
Kenapa kalian menghabiskan waktu berdemo juga
Padahal mata tidak bisa melihat dengan sempurna
Kasusnya katarak dan glaucoma
Gawat ini situasinya penyakit instrument mata
Virus datang dari negeri lain rupanya
Bukan Cuma dari luar desa
Begini, kita sembuhkan dulu sumber etiologinya
Gawat lho, ini situasi kesehatannya.”

Dengan hormat orang desa terdiam mendengarnya
Kemudian anak muda di samping dokter itu bicara
Dia santun, cerdas dan logis cara berfikirnya:

“bapak-bapak, paman-paman, ibu-ibu semua
Saya minta maaf urun berkata-kata
Saya heran kenapa dipandang enteng tebing curam ini
Tingginya 50 meter, sangat tinggi
Di bawahnya batu-batu besar, dalam kali
Kalau terjatuh, bakal patah-patah, gegar otak kanan dan kiri
Jadi kalau tidak di pagar, berbahaya sekali
Maaf ya, maaf, kalian yang mau cabut pagar ini
Kalau tidak rabun atau buta, ya gila

Tebing betapa curam
Jurang betapa dalam
Kok tak tampak kedua-duanya
Konsep tebing dan jurang tak mauk akal rupanya
Gara-gara katarak dan glaukoma menuju buta

Nah, tentang pagar yang memang sudah tua keadaannya
Mari kita gotong royong menggantinya
Kita bikin yang kukuh semuanya
Sehingga anak-anak dan remaja
Bias bermain-main, berlari-lari ke sini dan ke sana
Dengan aman dan gembira.”

Kepala desa akhirnya muncul paling akhir lalu bicara:
“Sedulur, masih seabreg-abreg urusan di desa kita,
Kebodohan dan kemiskinan kita, kapan akan selesainya?

Kisah Nyata: Ketulusan Cinta Suami

Kinanti dan Wahyu adalah sepasang insan yang tinggal berdekatan. Karena itu tak heran bila kedua orang tua mereka juga bersahabat. Sejak SD hingga SMA mereka bersekolah di tempat yang sama, bahkan acap kali mereka sekelas. Kinanti tumbuh sebagai gadis yang cantik jelita, sementara Wahyu menjadi seorang pria yang cukup tampan dan simpatik. Meski banyak yang mengatakan mereka adalah pasangan yang serasi, keduanya tidak tertarik satu-sama lainnya bahkan seolah-olah saling membenci. Penyebab utamanya adalah atmosfir
persaingan diantara keduanya. Baik Kinanti maupun Wahyu adalah pelajar yang cerdas dan selalu
bersaing untuk memperebutkan juara umum di sekolah itu. Peringkat juara umum kesatu dan kedua bergantian disandang oleh keduanya.

Lulus SMA, keduanya sekolah terpisah. Kinanti diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri. Sementara Wahyu diterima di Fakultas Teknik di Institut Negeri yang berada di kota yang sama.
Sejak kuliah, Kinanti dikelilingi oleh mahasiswa yunior dan senior yang menyukainya. Hingga
menjelang lulus , Kinanti telah menjalin hubungan dengan beberapa pria yang selalu berakhir dengan perpisahan.Sementara, meski diminati oleh banyak gadis, Wahyu tak memiliki niat untuk menjalin hubungan serius dengan teman wanitanya, baik di kampus maupun dilingkungan tempat tinggalnya.

Di perguruan tinggi, baik Kinanti maupun Wahyu tetap menunjukkan prestasi yang cemerlang, sehingga diramalkan mereka akan lulus cumlaude.Rupanya Tuhan memiliki rencana untuk mereka. Tepat sebulan sebelum kelulusan, keduanya bertemu di suatu toko buku di kota itu dan saling jatuh cinta.

Setelah lulus cumlaude, keduanya langsung diterima kerja. Kinanti bekerja di lembaga pemerintahan, sementara Wahyu bekerja di perusahaan swasta.

Setahun kemudian mereka menikah dengan restu penuh kedua orang tua masing-masing.
Pada mulanya mereka hidup bahagia dan serba berkecukupan. Mereka lalui hidup bahagia penuh cinta dan saling setia. Namun masalah mulai muncul setelah hingga tahun kelima, mereka belum juga dikarunia momongan.

Sudah banyak upaya yang mereka lakukan, mulai dari pengobatan oleh dokter, hingga pengobatan yang bersifat natur atau tradisional. Hingga akhirnya, pada tahun kedelapan, dokter menvonis bahwa mereka belum dikaruniai putra karena sang ayah (Wahyu) bermasalah, sehingga
nyaris bisa dianggap tak mungkin memiliki anak.

Mengetahui kondisi itu, Kinanti meminta cerai ” aku tak mau menyia-nyiakan hidupku, ..mohon mas mengerti ” pintanya pada Wahyu. Dengan sedih dan sabar suaminya menjawab ” istriku beri aku waktu dua tahun lagi untuk melakukan upaya maksimal agar kita bisa punya momongan “.

“tapi mas…aku tak mau umurku bertambah dengan sia-sia..” rengek Kinanti. ” Istriku, demi cinta kita, mohon kesediaanmu memberiku kesempatan dua tahun lagi ” jawab Wahyu. Kemudian atas nama cinta keduanya sepakat untuk menunggu hingga dua tahun. Setahun kemudian, jangankan memiliki anak..yang terjadi adalah Kinanti divonis menderita gagal ginjal.

Dua hari setelah vonis, Wahyu berkata kepada Kinanti bahwa dia akan keluar negeri selama enam bulan. ” apa mas ?, kau mau tinggalkan aku saat aku begini… aku yakin penyakit ini datang karena aku stress memikirkan belum datangnya momongan ” protes Kinanti . Wahyu menjawab , bahwa selain itu merupakan tugas kantor, dia juga akan mencari donor ginjal untuk istrinya. Belum sampai enam bulan, Wahyu datang dengan membawa ginjal yang akan didonorkan.

Singkat cerita , operasi pencangkokan ginjal berlangsung sukses dan Kinanti pulih seperti sedia kala. Anehnya sejak itu, terlihat sekali fisik Wahyu semakin lemah. Atas izin Allah, akhirnya Kinanti hamil juga. Tak terkatakan kegembiraan dan bersyukurnya suami istri tersebut.

Pada suatu pagi, Wahyu tergesa-gesa pergi dn pamit kepada Kinanti karena harus mengikuti rapat di kota lain. Kepergian yang tergesa-gesa membuat Wahyu tak sempat membawa diarynya. Dan kebetulan pada siang hari saat Kinanti membereskan meja kerja suaminya dia melihatnya dan penasaran untuk membacanya.
seusai membaca diary suaminya, tumpahlah semua air mata Kinanti, ternyata ginjal yang didonorkan untuknya adalah ginjal suaminya sendiri. ‘ pantas mas Wahyu terlihat mudah lelah akhir-akhir ini ” pikir Kinanti sambil terisak-isak.

Segera dia mengambil HP untuk menelpon suaminya dengan maksud memohon maaf atas sikapnya selama ini. Belum sempat dia menelpon. .HPnya berdering terlebih dahulu. dari seberang, terdengar isak tangis ibu mertuanya yang mengatakan bahwa Wahyu tewas dalam kecelakaan lalu-lintas tadi pagi. Dan menurut ibunya sebelum meninggal wahyu sempat berpesan kepada ibunya bahwa dia akan membawa cinta untuk kinanti selamanya.

Tak sempat selesai mendengar kelanjutannya.Kinanti berteriak ” mas Wahyu..maafkan aku ” untuk kemudian ambruk jatuh tak sadarkan diri.

Jumat, Mei 06, 2011

Dahsyatnya Adzab Neraka

Diriwayatkan dari Umar RA: Telah datang Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW bukan pada waktu yang biasanya ia datang. Rasulullah SAW lalu berdiri mendapatkannya dan bertanya: “Wahai Jibril, kenapa aku melihat warnamu berubah? Berkata Jibril: “aku datang kepadamu untuk menerangkan semburan api neraka”. Bersabda Nabiyullah Muhammad SAW: “Terangkan kepadaku keadaan neraka dan hal ikhwal Jahannam”. Berkata Jibril:

“Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan agar Jahannam dinyalakan apinya 1000 tahun lamanya, sehingga karena panasnya berubahlah warnanya menjadi putih. Lalu diperintahkannya menyalakannya 1000 tahun lagi sehingga berubah warnanya menjadi merah. Lalu diperintahkan menyalakannya lagi sehingga berubah warnanya menjadi hitam yang sangat gelap, sehingga hilang sinarnya, bergejolak-gejolak, dan tak padam-padam bakarannya.Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya dibukakan Jahannam itu sebesar lubang jarum saja, maka akan terbakarlah bumi dan segala isinya karena panasnya. Dan demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya salah satu dari penjaga-penjaga Jahannam itu didatangkan Allah SWT ke dunia, akan matilah seluruh manusia dan seisi bumi ini karena kejelekan rupanya dan kebusukan baunya. Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya salah satu ring (sebuah biji rantai) dari Jahannam diletakkan di atas sebuah gunung di dunia, akan tembuslah gunung itu sampai ke dasar bumi yang paling bawah”.

Maka bersabda Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, untunglah jantungku tak sampai pecah sehingga aku mati mendengar keteranganmu”. Rasulullah melihat Jibril menangis, dan Rasulullah SAW pun turut menangis. Lalu beliau bersabda: “Mengapa engkau sampai menangis, ya Jibril, sedangkan kedudukanmu begitu tinggi di sisi Allah SWT. Berkata Jibril: “Mengapa aku tidak akan menangis, malah akulah yang lebih berhak untuk menangis, karena siapa tahu kedudukanku dalam ilmu Allah SWT tidak seperti yang aku ketahui, dan saya tidak mengetahui apakah saya tidak akan mengalami cobaan sebagaimana yang telah dialami oleh iblis, sedang iblis itu termasuk golongan malaikat (sebelum dia menyeleweng), dan aku tidak tahu apakah aku akan mengalami sebagaimana yang dialami oleh Harut dan Marut. Maka menangislah Jibril dan menangis pulalah Rasulullah SAW, lama keduanya sama-sama menangis, lalu datanglah seruan dari langit:

“Wahai Jibril, wahai Muhammad, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menjamin kalian berdua dengan tidak akan durhaka”. Lalu Jibril naik ke langit, dan Rasulullah SAW meneruskan perjalanan beliau, sehingga bertemu dengan sekelompok orang Anshar yang bermain-main dan tertawa-tawa. Lalu berkata Rasulullah SAW kepada mereka: “Apakah kalian akan terus tertawa-tawa sedangkan di belakangmu neraka Jahannam. Sekiranya kamu mengetahui akan apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis, kamu tidak akan dapat makan dan minum, malah akan pergi ke tempat-tempat tinggi untuk memohon perlindungan Allah SWT”.

Kehebatan Osama dalam Puisi Anis Matta

Diam-diam Sekjen PKS mengagumi sosok Osama Bin Laden. Dengan kepiawaian kata-katanya, diapun menuliskan puisi 'imajiner' tentang kebesaran sosok Osama bin Laden bagi ummat Islam.



"Surat Untuk Osama"

Osama,
Kamu tidak pernah bilang padaku
Kalau kamu mau meledakkan WTC dan Pentagon
Bush juga tidak punya bukti sampai sekarang
Jadi aku memilih percaya
Pada cinta yang terpancar
Di balik keteduhan matamu
Pada semangat pembelaan yang tersimpan
Di balik lebat janggutmu.

Osama,
Kamulah yang mengajar
Bangsa-bangsa yang bisu untuk bisa bicara
Maka mereka berteriak.

Kamulah yang menanam bibit-bibit keberanian,
Di ladang jiwa orang-orang penakut
Maka mereka melawan.

Kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan,
Di renung kalbu orang-orang tertindas
Maka mereka berjuang.

Kamulah yang mengobarkan harapan di langit
Hati orang-orang terjaga
Maka mereka memberontak.

Osama...
Kamulah yang mengunci mulut bangsa-bangsa adidaya,
Supaya mereka terdiam
Maka mereka hanya bisa mengamuk.

Kamulah yang meruntuhkan keangkuhan
Dari jidat bangsa-bangsa arogan
Maka mereka terbungkam.

Kamulah yang merampas rasa aman
Dari jiwa bangsa-bangsa tirani
Maka mereka tak pernah bisa tidur nyenyak.

Kamulah yang merenggut selera hidup
Dari langit hati bangsa-bangsa makmur itu
Maka mereka tak lagi menikmati hidup.

Osama oh Osama... Osama oh Osama...
Mari kita nyanyikan lagu kemenangan
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang telah menemukan kehidupannya.

Osama oh Osama... Osama oh Osama...
Mari kita senandungkan lagu keabadian
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang merindukan taman surga.


"Jawaban Osama"

Saudaraku,
Surat ini sudah kuterima
Aku baik-baik saja di sini
Aku masih minum teh di pagi hari
Dan menikmati sunset di sore hari
Aku juga masih mengendalikan bisnis
Dan mengontrol jaringan Al-Qaidah
Dari balik gua-gua Afghanistan.

Tenanglah saudaraku,
Karena jadwal kematianku
Tidak ditulis di Pentagon atau Gedung Putih.

Saudaraku,
Aku menonton aksi-aksi kalian di TV Al-Jazirah
Aku senang kalian mulai berani berbicara
Aku suka kalian sudah bisa bikin Bush marah-marah
Aku gembira kalian sudah bisa bilang tidak
Aku bahagia kalian mulai belajar jadi singa
Aku terharu kalian miskin-miskin tapi mau nyumbang...
Aku terheran-heran kalian kecil-kecil
Tapi mau jihad ke Afghanistan
Aku pikir kalian ini anak-anak ajaib.

Saudaraku aku mau buka rahasia sama kamu
Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa.

Kamu tahu nggak,
Kenapa orang-orang Taliban sayang sama aku
Kata mereka ternyata karena aku lucu
Bocah-bocah Afghan juga senang padaku
Kata mereka karena aku bawa mainan
Pesawat-pesawat Amerika untuk mereka
Para pemulung Afghanistan juga suka padaku
Kata mereka karena roda-roda lama mereka itu
Bisa jadi besi tua yang laris.

Orang-orang Amerika itu terlalu serius
Padahal kita cuma sedang bermain di halaman surga.

Saudaraku,
Kalau nanti Allah memilihku jadi syahid
Utusanku akan datang menemuimu
Membawa sebuah pundi kecil
Itulah darahku,
Siramlah taman jihad di Ambon, di Ternate dan Poso
Tapi kalau aku bisa mengubur keangkuhan Amerika di sini
Aku akan datang ke Indonesia
Kamu tahu apa yang akan aku lakukan
Aku hanya mau investasi di negerimu