Cinta kata Romeo adalah degupan hati ketika nama Juliet terucap.Kata pujangga cinta adalah penerimaan dan pengorbanan.
Kata angin cinta adalah hembusan kelembutan nan semilir.
Kata air cinta adalah kesejukan nan mengalir.
Kata bunga cinta adalah seharum anyelir.
Kata matahari cinta adalah kerinduan akan datangnya pagi.
Kata burung cinta adalah nyanyian yang mengiringi terbitnya matahari.
Sebelum kita masuk dalam pembahasan ini, perlu ada kesepakatan dahulu bahwa cinta yang kita bicarakan saat ini adalah manifestasi dari universalisme cinta. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam satu diskusi pernah ada orang yang mengkritik secara tegas bahwa cinta itu hanyalah: cinta kepada Allah, Rasulullah dan orang tua. Pernyataan saudara kita tersebut benar adanya, namun hendaknya perlu diketahui cinta juga termanifes dalam kehidupan sehari-hari, sifatnya universal. Cinta kepada Allah saja bisa dijabarkan dengan begitu luas, menolong anak burung yang jatuh dari sarangnya, membantu semut yang berada di genangan air juga manifestasi dari cinta, yang mana itu dilakukan semata-mata karena cinta kita kepada Penciptanya. Hal ini juga dipertegas oleh sabda nabi, bahwa barangsiapa menyayangi yang ada di bumi maka yang ada dilangit akan menyayanginya. Siapa yang ada di langit? Tentulah Allah dan para malaikatnya. Ini menunjukkan bahwa cinta begitu universal. Barangkali kita juga tidak menyalahkan bila ada orang yang mendefinisikannya hanya sebatas tiga hal di atas. Karena tiga hal tersebut adalah kunci atau sumber cinta. Akan lebih bijaksana apabila diperluas hingga melebar ke sisi-sisi lainnya. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa murka dan memukulnya orang tua kepada anak juga manifestasi dari cinta.
Cinta sendiri memiliki banyak makna tergantung dari sisi mana dan siapa yang mendefinisikannya. Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab, mereka yang aktif di dalamnya, menyebutnya sebuah permainan, mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian, mereka yang mencintai, menyebutnya takdir. Bukan hal yang mudah untuk mendefinisikan cinta, karena cakupannya yang luas. Ada cinta kepada suami, istri, anak, kekasih, orang tua dan lain-lain. Karena objek cinta yang berbeda-beda maka proyeksi cinta dapat mengambil bentuk yang berbeda pula. Misalnya burung membahasakan cinta kepada anaknya dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Matahari membahasakan cintanya kepada bumi dengan cara menyinari secara terus menerus hingga menjadikan tumbuh-tumbuhan hidup dan bumi terang. Suami membahasakan cinta kepada istrinya dengan membawakan hadiah atau sekedar memberikan kecupan lembut dikeningnya.
Arti kata cinta berubah sesuai dengan apakah atau siapakah yang dicintainya. Seperti dikatakan diatas, cinta kepada anak, cinta kepada istri atau suami, cinta kepada orang tua dan sebagainya. Lain dari itu semua ada cinta yang membutuhkan perhatian besar baik kita sebagai remaja, orang dewasa maupun sebagai orang tua. Semua lagu yang popular selalu bertemakan cinta. Diantara penerbitan majalah dan novel yang paling laku adalah yang bertemakan cinta. Diantaranya percintaan wanita cantik dengan pria yang tampan. Demikian pula dalam layar lebar cerita cinta selalu diusung seakan tak ada habisnya untuk ditampilkan. Betapapun sinisnya sebagaian orang menyikapi tentang berbagai hal yang terkait dengan cinta, tetapi kebanyakan orang masih suka dengan lakon-lakon percintaan. Cerita cinta telah dirasa sebagai bumbu penyedap dalam setiap tayangan.
Tentunya hal ini diketahui benar oleh para pembuat skenario perfilman. Dari sejak jaman para kampiun cinta seperti Cleopatra, Syeikh Jihan, hingga jaman sekarang lakon tentang cinta selalu berulang. Jaman boleh berubah namun tema-tema percintaan selalu sama, dan tidak pernah basi. Meskipun Syeikh Jihan mampu mendirikan Taj Mahal untuk sang istri yang amat dicintainya Nun Taj Mahal, namun bilamana ditanya apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta? Barangkali ia tak mampu menjawabnya. Ia hanya bisa mengilustrasikan cinta dari karyanya. Beberapa orang tua juga amat susah ketika untuk mendefinisikan arti cinta kepada anak. Barangkali juga lidah mereka kelu untuk mengatakan “ayah mencintaimu nak”, “ibu bangga kepadamu”, tetapi kebanyakan orang tua lebih mudah untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada anak-anaknya ketimbang mengurainya dengan kata-kata.
Demikian sulitnyakah mendefinisikan cinta? Dr. Scott Peck mengatakan "Cinta adalah keinginan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual sendiri atau perkembangan spiritual orang lain." Menurut Scott Peck, dalam pengalaman konselingnya dengan para kliennya, cinta itu terkadang membingungkan orang-orang yang ia tangani (kliennya). Sebagai contoh, ada seorang remaja SMU yang sangat ketakutan berkata, "Ibu saya sangat mencintai saya. Dia tidak akan mengizinkan saya pergi ke sekolah naik bus sendiri. Ibu saya sangat ketakutan, kalau terjadi kecelakaan dalam perjalanan ke sekolah. Oleh karena itu, ia mengantar jemput saya ke sekolah setiap hari. Hal ini sangat berat baginya, tetapi jujur, berat juga buat saya" Tentu dari cerita itu, perasaan cinta di sini lebih ke arah sayang ibu terhadap anaknya, tetapi sayang yang sedemikian menghambat pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan si anak. Remaja yang sudah SMU itu diperlakukan bagaikan anak kecil. Perhatian sang ibu justru ditafsirkan sebagai "ancaman" untuk si anak, karena ia sangat takut ditertawakan oleh teman-temannya, ketika sang mami menuntunnya ke sekolah. Beberapa orang tua juga menjejali anak-anaknya dengan seabrek kegiatan di luar sekolah, seperti memanggil guru privat untuk memberikan tambahan pelajaran di rumah, les piano, les tari, dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan alasan demi mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Padahal kalau mau jujur itu semua bukanlah untuk kebutuhan anak-anaknya melainkan kebutuhan orang tua. Orang tua juga suka memberikan apapun yang diminta oleh anak-anaknya. Pemberian inipun dilandasi karena rasa sayangnya pada sang anak. Hingga ketika anak sakit batuk dan dilarang dokter untuk meminum air es, tetapi demi memenuhi permintaan sang anak, orang tua terpaksa melanggar larangan itu, sekali lagi itu diberikan karena anak memintanya. Sesungguhnya bila orang tua menyadari apa yang ia berikan kepada anak tidak menjadikan kebaikan, justru akan menambah permasalahan. Tidak menyehatkan justru membinasakan. Tidak menyelesaikan masalah justru membuat atau bahkan memperparah masalah. (bersambung ke bagian-2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar