Swaisen bilding, begitu biasanya kami membacanya. sebuah bangunan berbentuk lingkaran yang terletak di tengah-tengah kampus, dengan tata ruang yang indah, dan suitable with all of climates. kaloau musim winter suasana di dalam terasa hangat, bahkan lantainya juga hangat. kalau musim summer ruangan terasa sejuk. Gedung dengan ukuran keliling sekitar 300 m ini memiliki 2 lantai dan 1 pintu masuk automatic. Di lantai satu terdapat 3 ruang: toilet, ruang tamu dan pengumuman, serta ruang meditasi (ruang utama).Pada awalnya gedung ini disediakan oleh pihak university untuk tempat meditasi. tapi karena kebutuhan mahasiswa-mahasiswa untuk ibadah meningkat, gedung ini juga dipergunakan untuk segala bentuk peribadatan lainnya. Bagi Muslim zuijsen building adalah sebuah mushola, setiap hari kami memadati gedung ini untuk sholat lima waktu. Bagi Kristiani, bangunan ini adalah sebuah gereja, seminggu dua kali mereka sembahyang di dalamnya (individual). Bagi para meditator (barangkali itu nama untuk orang yang suka bermeditasi), gedung ini mereka gunakan untuk kontemplasi.. dan lain sebagainya, luar biasa bukan?
Yang lebih menarik lagi, ketika berbagai kepercayaan melakukan aktivitas bersama-sama dalam satu ruang dan satu waktu, akan muncul keanehan-keanehan. Yang satu sholat di atas sajadah menghadap ke kiblat (kalau dari arah sini kiblatnya ke arah timur agak ke selatan, ntah lupa namanya), persis di depannya (duduk berhadapan muka) ada orang-orang sedang 'menyembah' tuhan lainnya, sedangkan di belakang kita sholat, ada pula mereka yang sedang bermeditasi menghadap tembok dengan berbagai macam gaya. Ada lagi kepercayaan lain lagi, dengan pola 'ibadah' yang berbeda pula.
Kadang-kadang kami berfikir "apakah cara sholat di tempat seperti ini" bisa dibenarkan? Apakah malaikat mau masuk dan ikut mengamini bacaan alfatihah kami? Apakah Allah SWT mau berdialog dengan kami, ketika kami mulai membaca secara perlahan surah al-Fatihah? Bukankah menurut Hadits Qudsi, bahwa ketika imam sholat membaca surah al-Fatihah, Allah SWT selalu membanggakan hamba-hamba yang memujinya di depan para malaikat? Seperti ketika kita membaca "alhamdulillahi raabbil'aalamiin" Allah berfirman kepada para malaikatnya, "hamidanii 'abdii" (hambaku memujiku), lalu ketika kita membaca "arrahmaan arrahiim", Allah berfirman "majjadanii 'abdii"... dan seterusnya. Entahlah, mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kami dari kelemahan dan kekhilafan ini.
Kembali ke Zuijsen Building, kalau di Indonesia barangkali tidak ada yang namanya mushola atau masjid tutup ya, meskipun saat itu masjid sedang di rehab kita masih tetap melaksanakan sholat di bagian yang masih bisa digunakan. Namun di zuijsen ini, terkadang kami tidak bisa melaksanakan sholat karena ruangan sedang di pakai acara kerohanian yang sifatnya massal oleh pemeluk agama lain. Sehingga "mushola" ini tertutup untuk "jamaah" lainnya. Awalnya hal ini membuat saya jengkel "wong mau sholat aja kok gak boleh". Tapi lama-kelamaan hal itu membuat saya ketawa sendiri, "aneh rasanya". Mereka (si pembuat aturan) barangkali tidak mengerti atau bahkan tidak peduli bahwa kita (muslim) harus sholat 5 waktu sehari, dengan waktu-waktu yang telah ditentukan. Sehingga seharusnya acara-acara yang dibuat di "gedung bersama" ini harus memperhatikan waktu-waktu ibadah agama lainnya.
Tapi, kami masih sangat bersyukur dengan adanya "mushola" ini, setidaknya eksistensi kita ummat Islam di hargai oleh mereka. Dan kalau diperhatikan secara seksama mobilitas muslimin di gedung ini lebih terlihat dibandingkan dengan aktivitas-aktivitas kepercayaan lain. Kamilah yang selama ini "memakmurkan mushola" ini. Dan kami berharap kelak Zuijzen Building benar-benar akan menjadi mushola yang sesungguhnya, yang hanya digunakan semata-mata untuk ber-taqarrub kepada Allah SWT.
Autumn,
Ba'da Maghrieb
Autumn,
Ba'da Maghrieb
1 komentar:
wah...kelihatannya asik tapi diah orangnya visual bgts jadi lebih asik klo ada fotonya he..he..
Posting Komentar