Rabu, November 26, 2008

Mendekat Titik Terakhir

hidup bagaikan garis lurus
tak pernah kembali ke masa yang lalu
hidup bukan bulatan bola
yang tiada ujung dan tiada pangkal
hidup ini melangkah terus
semakin mendekat ke titik terakhir
setiap langkah hilanglah jarak
menikmati hidup, menikmati dunia


Satu bait lirik lagu bimbo di atas menasehati kita agar kita selalu menyadari eksistensi hidup kita. tugas-tugas kita, tanggungjawab kita dan masing-masing peran kita.

Setiap detik yang berlalu sebenarnya berlalu pula usia kita. karena detik yang berlalu itu semakin mendekatkan kita kepada titik terakhir, yaitu titik dimana semua catatan hidup kita akan berhenti. titik yang memutuskan mata rantai kenikmatan, menceraiberaikan kebersamaan antara anak dengan orang tua, antara suami dengan istri, antara sahabat dengan sahabat, antara kita dengan semua orang yang kita kasihi. Kita sering lupa bahwa titik yang akan datang itu, tidak akan terjadi dalam kehidupan kita.

Usia kita seringkali tiada disadari pertambahannya, yang kita rasakan hanya sekedar menjalani hari-hari dengan segala aktivitas-aktivitas yang padat. tanpa dirasakan kita baru sadar bahwa sisa hidup kita tinggalah sebentar. baru kemarin rasanya kita mengenakan seragam merah-putih, berganti biru-putih, lalu berganti abu-abu-putih, tiga tahun kemudian kita kuliah, empat tahun kemudian kita bekerja, lalu menikah, memiliki keturunan dan seterusnya. tahapan-tahapan yang kita lalui serasa cepat jalannya. belum lama kita merengek minta uang jajan atau bayar spp kepada orang tua, kini kita sudah menjadi orang tua yang giliran direngeki oleh anak-anak kita.

Kata Bimbo setiap langkah hilanglah jarak kita dalam menikmati hidup, dan menikmati dunia. belum lama rasanya gigi geligi kita begitu kuat menggerus makanan-makanan keras, dan hampir semua yang bisa dimakan kita mampu memakannya, namun kini semua kebebasan menikmati makanan tersebut mulai berkurang. dulu derasnya hujan tidak kita hindari, justru kedatangannya amat dinanti. kita bisa bertelanjang dada untuk berlari-lari kesana kemari seirama dengan derasnya air yang turun, kini jangankan bermain air hujan, kepala terkena sedikit air hujan saja membuat kita pusing, masuk angin, dan sebagainya. ingin rasanya kita bisa mengulang keasyikan-keasyikan di masa kecil, namun ternyata fisik kita tidaklah sekuat keinginan kita untuk melakukannya.

Pada usia yang kini berstatus sebagai orang tua, kita merasakan bahwa hidup di dunia ini tidaklah lama, yang lama adalah masa penantian kita di alam barzah, penantian terhadap hisab dan kekekalan kehidupan sesudahnya. Semua datang silih berganti. belum lama kita menjadi seorang anak yang memiliki ayah dan ibu, memiliki kakek dan nenek bahkan kakek dan nenek buyut. kini peran mulai bergeser, kitalah saat ini yang menjadi orang tua dari anak-anak kita, dan orang tua kita bergeser pula kedudukannya sebagai kakek dan nenek dan seterusnya. bahkan dulu semua orang memanggil kita "dik" lalu menjadi "mas", kini setelah kita memiliki anak dan seiring dengan bertambahnya usia, status sosial-pekerjaan serta berubahnya performansi kita, orang-orang mulai memanggil kita "pak" dan "bu", yang artinya bahwa kita sudah dianggap orang dewasa. Panggilan "mas dan mbak" yang dulu selalu melekat di depan nama kita, kini tidak kita sandang lagi. dan tentunya pada gilirannya nanti sebutan "pak dan bu" inipun akan berubah pula.

Hidup memang tidak lama, oleh karena itu sekiranya dalam hidup ini kita mengalami kepahitan atau kekurangberuntungan di bandingkan dengan orang-orang lainnya, barangkali kita tidak perlu berduka cita, karena itu semua tidak akan berlangsung lama. oleh karena itu bagi kita yang "dianggap beruntung" harus memahami kesementaraan keberuntungan itu. Jangan sampai "keberuntungan" itu membuat kita terlena di dalamnya. Dan bagi yang merasa "kurang beruntung" kita harus yakin bahwa kalau kita ikhlas menerimanya, semua akan menjadi kebaikan buat kita.

Statenlaan,
Akhir November

Senin, November 24, 2008

Maha Karya

Kata orang belum sampai Eropa kalau belum melihat putihnya salju. Barangkali kalimat itu benar adanya. Salju sebenarnya bukan hanya milik Eropa tetapi juga milik negara-negara di benua-benua lainnya, seperti Amerika, dan bahkan di beberapa tempat seperti Australia dan Asiapun dihinggapi salju.


Hari ini, 22 November hari yang paling ditunggu oleh mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negara-negara tropis dan sub tropis, termasuk mahasiswa-mahasiswa dari negara Indonesia seperti saya, hujan salju. Awal kita melihatnya... "subhanallah" takjub akan kebesaran Allah. Seperti kapas melayang-layang perlahan, seakan menyapa kulit kita untuk ikut merasakan sapuan lembutnya. kalau anda pernah melihat tukang betulin kasur-yang berisi kapuk- sedang bekerja, sehingga seluruh isi ruangan bertebaran kapuk-kapuk, nah seperti itulah gambaran hujan salju.


Saya kadang merenung, kenapa Allah tidak menurunkannya di Indonesia, biar keluarga saya, teman-teman dan orang-orang yang saya cintai ikut merasakannya juga. kenapa harus jauh di sini. bukankah ini maha karya yang maha hebat, yang seharusnya setiap orang bisa menikmatinya.. Saya selalu ingin agar keindahan-keindahan yang saya lihat, kesenangan-kesenangan yang saya rasakan, disaksikan dan dirasakan pula oleh orang-orang yang saya cintai.
Seperti ketika salah satu teman mengajak saya jalan-jalan ke Spanyol, cukup lama saya memikirkan untuk membuat keputusan. Hingga akhirnya keputusan saya "tidak". Karena menurut saya, apalah artinya keindahan yang kita saksikan kalau dalam menikmatinya tidak ada orang-orang yang kita sayangi. Apa yang saya lihat akan tampak lebih indah bila dirasakan bersama orang-orang yang dicintai.

Kembali ke maha karya Allah yang satu ini, the first snow sangatlah indah, penuh ketakjuban memandangnya, tapi kalau saban hari turun terus menerus ya ada tidaknyamannya juga. sama seperti saat menjelang musim hujan, hujan pertama sangat dinanti, setelah hujan bau tanah yang basahpun sangat enak terasa dihidung kita. tapi kalau tiap hari hujan, hehehe.....

Intinya adalah, apapun yang kita rasakan harus kita syukuri harus kita nikmati tiap detiknya. karena sekecil apapun nikmat yang kita rasakan sesungguhnya itu adalah karunia Allah yang maha Besar.

Jumat, November 21, 2008

Zuijsen Building

Swaisen bilding, begitu biasanya kami membacanya. sebuah bangunan berbentuk lingkaran yang terletak di tengah-tengah kampus, dengan tata ruang yang indah, dan suitable with all of climates. kaloau musim winter suasana di dalam terasa hangat, bahkan lantainya juga hangat. kalau musim summer ruangan terasa sejuk. Gedung dengan ukuran keliling sekitar 300 m ini memiliki 2 lantai dan 1 pintu masuk automatic. Di lantai satu terdapat 3 ruang: toilet, ruang tamu dan pengumuman, serta ruang meditasi (ruang utama).

Pada awalnya gedung ini disediakan oleh pihak university untuk tempat meditasi. tapi karena kebutuhan mahasiswa-mahasiswa untuk ibadah meningkat, gedung ini juga dipergunakan untuk segala bentuk peribadatan lainnya. Bagi Muslim zuijsen building adalah sebuah mushola, setiap hari kami memadati gedung ini untuk sholat lima waktu. Bagi Kristiani, bangunan ini adalah sebuah gereja, seminggu dua kali mereka sembahyang di dalamnya (individual). Bagi para meditator (barangkali itu nama untuk orang yang suka bermeditasi), gedung ini mereka gunakan untuk kontemplasi.. dan lain sebagainya, luar biasa bukan?

Yang lebih menarik lagi, ketika berbagai kepercayaan melakukan aktivitas bersama-sama dalam satu ruang dan satu waktu, akan muncul keanehan-keanehan. Yang satu sholat di atas sajadah menghadap ke kiblat (kalau dari arah sini kiblatnya ke arah timur agak ke selatan, ntah lupa namanya), persis di depannya (duduk berhadapan muka) ada orang-orang sedang 'menyembah' tuhan lainnya, sedangkan di belakang kita sholat, ada pula mereka yang sedang bermeditasi menghadap tembok dengan berbagai macam gaya. Ada lagi kepercayaan lain lagi, dengan pola 'ibadah' yang berbeda pula.

Kadang-kadang kami berfikir "apakah cara sholat di tempat seperti ini" bisa dibenarkan? Apakah malaikat mau masuk dan ikut mengamini bacaan alfatihah kami? Apakah Allah SWT mau berdialog dengan kami, ketika kami mulai membaca secara perlahan surah al-Fatihah? Bukankah menurut Hadits Qudsi, bahwa ketika imam sholat membaca surah al-Fatihah, Allah SWT selalu membanggakan hamba-hamba yang memujinya di depan para malaikat? Seperti ketika kita membaca "alhamdulillahi raabbil'aalamiin" Allah berfirman kepada para malaikatnya, "hamidanii 'abdii" (hambaku memujiku), lalu ketika kita membaca "arrahmaan arrahiim", Allah berfirman "majjadanii 'abdii"... dan seterusnya. Entahlah, mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kami dari kelemahan dan kekhilafan ini.

Kembali ke Zuijsen Building, kalau di Indonesia barangkali tidak ada yang namanya mushola atau masjid tutup ya, meskipun saat itu masjid sedang di rehab kita masih tetap melaksanakan sholat di bagian yang masih bisa digunakan. Namun di zuijsen ini, terkadang kami tidak bisa melaksanakan sholat karena ruangan sedang di pakai acara kerohanian yang sifatnya massal oleh pemeluk agama lain. Sehingga "mushola" ini tertutup untuk "jamaah" lainnya. Awalnya hal ini membuat saya jengkel "wong mau sholat aja kok gak boleh". Tapi lama-kelamaan hal itu membuat saya ketawa sendiri, "aneh rasanya". Mereka (si pembuat aturan) barangkali tidak mengerti atau bahkan tidak peduli bahwa kita (muslim) harus sholat 5 waktu sehari, dengan waktu-waktu yang telah ditentukan. Sehingga seharusnya acara-acara yang dibuat di "gedung bersama" ini harus memperhatikan waktu-waktu ibadah agama lainnya.
Tapi, kami masih sangat bersyukur dengan adanya "mushola" ini, setidaknya eksistensi kita ummat Islam di hargai oleh mereka. Dan kalau diperhatikan secara seksama mobilitas muslimin di gedung ini lebih terlihat dibandingkan dengan aktivitas-aktivitas kepercayaan lain. Kamilah yang selama ini "memakmurkan mushola" ini. Dan kami berharap kelak Zuijzen Building benar-benar akan menjadi mushola yang sesungguhnya, yang hanya digunakan semata-mata untuk ber-taqarrub kepada Allah SWT.

Autumn,
Ba'da Maghrieb

Selasa, November 18, 2008

Cinta-2

Beberapa orang tua juga menjejali anak-anaknya dengan seabrek kegiatan di luar sekolah, seperti memanggil guru privat untuk memberikan tambahan pelajaran di rumah, les piano, les tari, dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan alasan demi mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Padahal kalau mau jujur itu semua bukanlah untuk kebutuhan anak-anaknya melainkan kebutuhan orang tuanya. Orang tua juga suka memberikan apapun yang diminta oleh anak-anaknya. Pemberian inipun dilandasi karena rasa sayangnya pada sang anak. Hingga ketika anak sakit batuk dan dilarang dokter untuk meminum air es, tetapi demi memenuhi permintaan sang anak, orang tua terpaksa melanggar larangan itu, sekali lagi itu diberikan karena anak memintanya. Sesungguhnya bila orang tua menyadari apa yang ia berikan kepada anak tidak menjadikan kebaikan, justru akan menambah permasalahan. Tidak menyehatkan justru membinasakan. Tidak menyelesaikan masalah justru membuat atau bahkan memperparah masalah.

Mencintai perempuan yang sudah terikat rumah tangga pada dasarnya bukan memberikan kebahagiaan, meskipun yang dirasakan dari kedua pihak barangkali adalah “kebahagiaan”. Lebih tepatnya mungkin disebut keburukan berbalut kebahagiaan. Rasa cinta dari keduanya tidak akan membuat perubahan yang positif. Bahkan menambah permusuhan dan memperparah kondisi keluarga yang sebelumnya telah ada amasalah.

Cinta yang sejati selalu membawa pertumbuhan. Bukan bersifat posesif yang obsesif (keinginan memiliki dilandasi motivasi yang salah, yaitu hanya untuk menyenangkan diri sendiri). Yang dimaksud dengan pertumbuhan, yaitu: Cinta itu membawa kebaikan bagi seorang yang sedang mencintai dan bagi seorang yang dicintai. Tidak membuat seseorang tertekan, dipaksa untuk mencintai, atau mengorbankan sesuatu secara salah dengan alasan cinta.

Cinta kasih itu membuat dua pihak saling bahagia. Bila salah satu pihak atau kedua pihak menderita, itu bukan cinta kasih namanya. Ketika sepasang remaja dimabuk cinta sesungguhnya mereka sedang meneguk lemon beracun, rasanya manis, indah dirasa, namun sesungguhnya bisa merusak tulang-tulang persendian bahkan bisa menghentikan denyut jantung mereka. Komitmen percintaan yang dilakukan remaja diluar pernikahan akan berbanding terbalik dengan aktivitas-aktivitas positif lainnya. Yang tadinya suka membaca kini hanya melamun bila berjauhan dengan kekasihnya, yang semula gemar berdakwah, kini lidah terasa kelu untuk berkata, yang dulunya betah sholat lama-lama di masjid kini hanya beribadah secukupnya saja. Barangkali ini imbas dari dominansi syaitan dalam dirinya. Perasaan yang meluap-luap pada pasangan yang dimabuk cinta akan melenakan segalanya.

Dalam berbagai seminar bertemakan remaja, saya seringkali mendapat statemen bahwa cinta itu akan menumbuhkan motivasi belajar, meningkatkan need achievement, membuat hidup lebih bergairah dan sebagainya. Benarkah demikian? Memang belum ada riset yang membuktikan kebenaran statemen tersebut, namun menurut pengamatan saya terhadap realitas yang ada, belum pernah ada siswa atau mahasiswa yang meningkat prestasinya karena efek jatuh cinta. Karena perasaan yang meluap-luap dari dua sejoli yang sedang dimabuk cinta akan menumpulkan pikiran dan perasaan.

Dari penjelasan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa cinta yang sejati bukanlah perasaan meluap-luap yang menguap, atau hanya diukur dalam waktu yang singkat, tetapi cinta itu membutuhkan suatu proses. Cinta tak bisa diuji dalam keterburu-buruan, cinta membutuhkan pengenalan dan pengalaman yang panjang. Benarlah yang dikatakan oleh Katherine Anne Porter, "Cinta harus dipelajari, dan terus-menerus dipelajari kembali; tak ada kata akhir untuk itu" Dan apa yang dikatakan oleh Dr. Les Parrott dan Dr. Leslie Parrott pantas untuk disimak, "Cinta adalah suatu campuran yang aneh dari hal-hal yang bertentangan.

Di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kemarahan, kegairahan dan kebosanan, kestabilan dan perubahan, pembatasan dan kebebasan. Paradoks cinta yang paling mendasar adalah bahwa dua menjadi satu, namun tetap dua!" P. Herod mengatakan cinta adalah bagaikan sebuah pertandingan tenis kita tidak akan pernah menang terus menerus sebelum kita belajar untuk melakukan pukulan awal dengan baik.

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan cinta adalah buhulnya iman, dimana seorang hamba tidak akan masuk jannah tanpa cinta. Seseorang tidak akan selamat dari ancaman siksa Allah tanpa cinta. Maka hendaklah seseorang itu berperilaku atas dasar cinta. Lebih jauh beliau melihat bahwa cinta merupakan dasar dari perwujudan segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Tanpa cinta menurutnya proses kehidupan tidak akan terbangun dengan baik. Beliau juga mengungkapkan bahwa setiap yang hidup mesti memiliki cinta, kemauan dan perilaku serta setiap yang bergerak maka dasar yang menggerakkannya itu adalah cinta dan kemauan.

Ungkapan Ibnul Qayyim di atas diperkuat dengan sangat indah oleh Jalaluddin Rumy. Cinta bagi Rumy adalah segala-galanya. Alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta. Bahkan gravitasi bumipun terjadi karena cinta. Demikian pula proses alam yang lain. Melalui cinta dan kasih alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif, matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, berbunga, berbuah, berkembang dan seterusnya. Cinta adalah lautan tak bertepi, luas, dalam penuh dengan makna. Lebih lanjut Rumy mengatakan, andai tidak ada cinta maka alam ini tidak lagi mempesona, kicauan burung tidak lagi merdu, panorama alam tidak lagi indah, bahkan dunia akan membeku tanpa makna.

Subhanallah…, bila menyimak perkataan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dan Jalaluddin Rumy di atas betapa dahsyatnya makna cinta. Cinta lebih luas dari apa yang kita kira. Cinta lebih agung dari yang kita rasa. Cinta lebih suci dari apa yang kita lihat dan dari apa yang dipraktekkan para remaja. Sudahkah rasa cinta yang kita miliki itu sebagaimana di gambarkan oleh mereka berdua?

saat teringat yang dicintai

Cinta

Cinta kata Romeo adalah degupan hati ketika nama Juliet terucap.
Kata pujangga cinta adalah penerimaan dan pengorbanan.
Kata angin cinta adalah hembusan kelembutan nan semilir.
Kata air cinta adalah kesejukan nan mengalir.
Kata bunga cinta adalah seharum anyelir.
Kata matahari cinta adalah kerinduan akan datangnya pagi.
Kata burung cinta adalah nyanyian yang mengiringi terbitnya matahari.


Sebelum kita masuk dalam pembahasan ini, perlu ada kesepakatan dahulu bahwa cinta yang kita bicarakan saat ini adalah manifestasi dari universalisme cinta. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam satu diskusi pernah ada orang yang mengkritik secara tegas bahwa cinta itu hanyalah: cinta kepada Allah, Rasulullah dan orang tua. Pernyataan saudara kita tersebut benar adanya, namun hendaknya perlu diketahui cinta juga termanifes dalam kehidupan sehari-hari, sifatnya universal. Cinta kepada Allah saja bisa dijabarkan dengan begitu luas, menolong anak burung yang jatuh dari sarangnya, membantu semut yang berada di genangan air juga manifestasi dari cinta, yang mana itu dilakukan semata-mata karena cinta kita kepada Penciptanya. Hal ini juga dipertegas oleh sabda nabi, bahwa barangsiapa menyayangi yang ada di bumi maka yang ada dilangit akan menyayanginya. Siapa yang ada di langit? Tentulah Allah dan para malaikatnya. Ini menunjukkan bahwa cinta begitu universal. Barangkali kita juga tidak menyalahkan bila ada orang yang mendefinisikannya hanya sebatas tiga hal di atas. Karena tiga hal tersebut adalah kunci atau sumber cinta. Akan lebih bijaksana apabila diperluas hingga melebar ke sisi-sisi lainnya. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa murka dan memukulnya orang tua kepada anak juga manifestasi dari cinta.

Cinta sendiri memiliki banyak makna tergantung dari sisi mana dan siapa yang mendefinisikannya. Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab, mereka yang aktif di dalamnya, menyebutnya sebuah permainan, mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian, mereka yang mencintai, menyebutnya takdir. Bukan hal yang mudah untuk mendefinisikan cinta, karena cakupannya yang luas. Ada cinta kepada suami, istri, anak, kekasih, orang tua dan lain-lain. Karena objek cinta yang berbeda-beda maka proyeksi cinta dapat mengambil bentuk yang berbeda pula. Misalnya burung membahasakan cinta kepada anaknya dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Matahari membahasakan cintanya kepada bumi dengan cara menyinari secara terus menerus hingga menjadikan tumbuh-tumbuhan hidup dan bumi terang. Suami membahasakan cinta kepada istrinya dengan membawakan hadiah atau sekedar memberikan kecupan lembut dikeningnya.

Arti kata cinta berubah sesuai dengan apakah atau siapakah yang dicintainya. Seperti dikatakan diatas, cinta kepada anak, cinta kepada istri atau suami, cinta kepada orang tua dan sebagainya. Lain dari itu semua ada cinta yang membutuhkan perhatian besar baik kita sebagai remaja, orang dewasa maupun sebagai orang tua. Semua lagu yang popular selalu bertemakan cinta. Diantara penerbitan majalah dan novel yang paling laku adalah yang bertemakan cinta. Diantaranya percintaan wanita cantik dengan pria yang tampan. Demikian pula dalam layar lebar cerita cinta selalu diusung seakan tak ada habisnya untuk ditampilkan. Betapapun sinisnya sebagaian orang menyikapi tentang berbagai hal yang terkait dengan cinta, tetapi kebanyakan orang masih suka dengan lakon-lakon percintaan. Cerita cinta telah dirasa sebagai bumbu penyedap dalam setiap tayangan.

Tentunya hal ini diketahui benar oleh para pembuat skenario perfilman. Dari sejak jaman para kampiun cinta seperti Cleopatra, Syeikh Jihan, hingga jaman sekarang lakon tentang cinta selalu berulang. Jaman boleh berubah namun tema-tema percintaan selalu sama, dan tidak pernah basi. Meskipun Syeikh Jihan mampu mendirikan Taj Mahal untuk sang istri yang amat dicintainya Nun Taj Mahal, namun bilamana ditanya apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta? Barangkali ia tak mampu menjawabnya. Ia hanya bisa mengilustrasikan cinta dari karyanya. Beberapa orang tua juga amat susah ketika untuk mendefinisikan arti cinta kepada anak. Barangkali juga lidah mereka kelu untuk mengatakan “ayah mencintaimu nak”, “ibu bangga kepadamu”, tetapi kebanyakan orang tua lebih mudah untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada anak-anaknya ketimbang mengurainya dengan kata-kata.

Demikian sulitnyakah mendefinisikan cinta? Dr. Scott Peck mengatakan "Cinta adalah keinginan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual sendiri atau perkembangan spiritual orang lain." Menurut Scott Peck, dalam pengalaman konselingnya dengan para kliennya, cinta itu terkadang membingungkan orang-orang yang ia tangani (kliennya). Sebagai contoh, ada seorang remaja SMU yang sangat ketakutan berkata, "Ibu saya sangat mencintai saya. Dia tidak akan mengizinkan saya pergi ke sekolah naik bus sendiri. Ibu saya sangat ketakutan, kalau terjadi kecelakaan dalam perjalanan ke sekolah. Oleh karena itu, ia mengantar jemput saya ke sekolah setiap hari. Hal ini sangat berat baginya, tetapi jujur, berat juga buat saya" Tentu dari cerita itu, perasaan cinta di sini lebih ke arah sayang ibu terhadap anaknya, tetapi sayang yang sedemikian menghambat pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan si anak. Remaja yang sudah SMU itu diperlakukan bagaikan anak kecil. Perhatian sang ibu justru ditafsirkan sebagai "ancaman" untuk si anak, karena ia sangat takut ditertawakan oleh teman-temannya, ketika sang mami menuntunnya ke sekolah. Beberapa orang tua juga menjejali anak-anaknya dengan seabrek kegiatan di luar sekolah, seperti memanggil guru privat untuk memberikan tambahan pelajaran di rumah, les piano, les tari, dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan alasan demi mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Padahal kalau mau jujur itu semua bukanlah untuk kebutuhan anak-anaknya melainkan kebutuhan orang tua. Orang tua juga suka memberikan apapun yang diminta oleh anak-anaknya. Pemberian inipun dilandasi karena rasa sayangnya pada sang anak. Hingga ketika anak sakit batuk dan dilarang dokter untuk meminum air es, tetapi demi memenuhi permintaan sang anak, orang tua terpaksa melanggar larangan itu, sekali lagi itu diberikan karena anak memintanya. Sesungguhnya bila orang tua menyadari apa yang ia berikan kepada anak tidak menjadikan kebaikan, justru akan menambah permasalahan. Tidak menyehatkan justru membinasakan. Tidak menyelesaikan masalah justru membuat atau bahkan memperparah masalah. (bersambung ke bagian-2)


Manifestasi Cinta

Cinta,
Begitu orang menyebutnya
Syahdu untuk diucap
Lembut untuk dirasa
Dengan cinta semua tampak mempesona

Bila si jantung hati yang terucap
Cinta terkadang tak mampu merasa
Hal-hal wajar dianggap memikat
Bahkan gula jawa terasa coklat

Cinta, begitu orang menyebutnya, temanya seakan tak pernah habis untuk dibicarakan, tak pernah lekang untuk dikisahkan, tak pernah basi untuk didiskusikan. Semua orang hidup pasti pernah merasakannya dan pernah melakonkannya. Ada yang bahagia karenanya ada pula yang bersedih. Kebahagiaan muncul tatkala cinta mendatangkan perasaan senang, karena hal-hal yang dicintainya. Ibu terlihat bahagia melihat kelucuan anak-anaknya, suami bahagia disambut senyum selepas kerja oleh istri tercinta. Cinta juga kadangkala mendatangkan kesedihan bilamana yang dicintainya jauh dari harapannya. Ibu akan bersedih bila anak-anak yang tiada henti dinasehati menjadi anak yang kurang ajar, suami kecewa bila sepulang kerja disambut istri dengan omelan yang berkepanjangan.

Cinta kehadirannya amat disukai oleh manusia, karena tanpanya hidup ini terasa menderita. Tanpa kehadirannya jelas kita tidak pernah ada. Adanya manusia karena cinta. Perpaduan kasih antara Adam dan Hawa telah menghantarkan kelestarian manusia hingga saat ini. Kita terlahir kedunia juga atas nama cinta, cinta kasih yang terjalin antara ibu dan bapak kita. Tanpa cinta mustahil kita ada dengan sendirinya. Tidak hanya manusia, cinta juga dibutuhkan oleh semua mahluk Allah. Binatang misalnya, mereka membutuhkan cinta untuk mengasuh anak-anaknya, bahkan perburuan binatang buaspun atas dasar cinta, yaitu kecintaan untuk memberikan makan kepada anak-anaknya. Cinta adalah motivator kuat untuk kelangsungan hidup manusia, cinta mengarahkan dan membimbing manusia untuk saling kenal, menolong dan bekerjasama.

Dalam Islam cinta itu fitrah, suci dan bersih yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya. Dengan cinta senandung ibu dapat meninabobokan anak-anaknya, bayi bisa tersenyum tulus ketika tangan lembut membelainya, ayah rela bekerja giat membanting tulang demi melihat kebahagiaan anak dan istrinya. Tanpa cinta dunia akan hancur, satu sama lain saling bermusuhan. Peperangan-peperangan tidak dapat dihindarkan. Tawa riang dan canda akan hilang berganti dengan tangisan duka nestapa.

Cinta memiliki kemapuan dahsyat dalam membangkitkan motivasi manusia. Merubah rasa takut dengan keberanian, merubah rasa malu dengan keyakinan, merubah kebencian dengan kasih sayang, menundukkan tatapan mata tajam dengan mata penuh uraian airmata. Cinta dapat merubah rasa dan kualitas rasa. Meskipun semua orang hampir berpendapat sama yaitu susah mendefinisikannya, namun mereka sepakat ada rasa yang berubah. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dua orang yang dulunya berkawan biasa, kini setelah cinta hadir diantara keduanya, menjadikan perubahan besar dalam hubungan mereka.

Demikian hebatkah cinta? Sehingga Zulaikhah tidak merasakan sakit ketika tangannya teriris hingga mengucurkan darah sewaktu melihat wajah Nabiyullah Yusuf Alaihissalam. Sehingga (dalam berbagai kasus) seorang suami/istri rela meninggalkan istri/suami dan anaknya untuk memilih jatuh kepelukan orang lain? Sehingga Bandung Bondowoso menyanggupi untuk membangun candi Prambanan dalam satu malam demi kekasih pujaannya Roro Jonggrang? Sehingga Sangkuriang menjadi gelap mata sampai-sampai mencintai ibu kandungnya? Sehingga ibu-ibu rumah tangga rela tidak memasak demi asyiknya menonton cerita cinta telenovela? Atau sehingga singgasana Allah bergetar tatkala Shahabat Sa’ad bin Mu’adz sang kekasih Allah wafat di medan jihad?

Iya, cinta akan membuat hidup lebih hidup. Banyak yang telah merasakannya. Seorang remaja yang sedang jatuh cinta rela mengorbankan waktunya berlama-lamaan dengan kekasih pujaannya. Ayah dengan tekun berangkat kerja, tak gentar menerobos hujan-petir demi menghapus airmata kesedihan anak dan istrinya. Praktis cinta memberikan kekuatan yang luar biasa. Cinta juga memberikan inspirasi bagi para penulis dan pujangga untuk menorehkan karya-karyanya. Para orang tua seringkali menjadikan cinta sebagai landasan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Diajarkannya sang anak membaca, menulis, berhitung dan sebagainya, itu semua karena landasan kasih sayang. Orang tua merasa bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya. Bahkan dipilihnya sekolah-sekolah yang bagus dan mahal, serangkaian kursus yang melelahkan, agar sang anak yang dicintainya dapat memperoleh bekal pendidikan yang memadai.

Cinta tidak selalu berproses secara menyenangkan, cinta kadangkala pahit untuk dirasakan oleh objek cinta. Ada orang tua yang seringkali dianggap kontraproduktif oleh anaknya. Mereka memberikan perintah dengan membentak, marah, bahkan memukul anaknya konon atas dasar cinta. Ketika sang anak dipukul karena kenakalannya, dan melakukan protes kenapa dirinya dipukul, orang tua beralasan itu dilakukannya semata-mata karena cinta orang tua kepadanya. Seorang guru yang memberikan nilai tidak memuaskan kepada muridnya didasari juga oleh cinta. Menurutnya itu dilakukan semata agar mahasiswa lebih rajin dan giat dalam menuntut ilmu. Pasangan suami istri konon juga ada yang rela bercerai atas dasar cinta. Sang suami/istri mengatakan bahwa berpisahnya mereka semata-mata agar mereka tidak saling menyakiti lagi, agar anak-anak tidak bingung dengan perbedaan pandangan orang tuanya.

Praktis cinta memiliki banyak sisi dan dimensi. Semua perilaku manusia juga dapat dikatakan manifestasi cinta, apapun perilakunya. Baik yang enak maupun tidak enak dirasa. Karena motivasional perilaku bukan dari apa yang tampak melainkan dari bagaimana yang diinginkan oleh pelakunya (niat).

Ba'da Dzuhur

Menyayangi Sepenuhnya

Dilihat dari warna rambutnya Pak Suyatno sudah tidak muda lagi. Di usianya yang sudah senja (58 tahun) keseharian beliau diisi dengan merawat istrinya yang sakit, istrinya juga sudah tua. Mereka telah menikah lebih dari 32 tahun, dikarunia 4 anak.

Cerita ini berawal ketika istrinya melahirkan anak ke empat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, kondisi itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.

Sebelum berangkat kerja beliau letakkan istrinya di tempat tidur yang terletak di depan TV, supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga tengah hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya dan mengganti pakaiannya. Selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Saat ini ke tiga anak pak suyatno sudah berumah tangga, tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari, ke empat anak pak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena sejak mereka menikah mereka sudah tinggal dengan keluarga masing-masing, dan pak suyatno memutuskan untuk merawat ibu mereka, sendirian. Yang beliau inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu". Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya "Dan sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi , kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anak mereka. "Anak-anakku, jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, karena dia telah melahirkan kalian".. Sejenak kerongkongannyatersekat. "Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat digantikan dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang ini?". Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yang sedang sakit?" Seketika, meledaklah tangis anak-anak pak suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno.. Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber di acara islami, selepas shubuh. Para hadirin di studio pun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno, "kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa?" mendengar pertanyaan seperti itu pak suyatno menangis, beliau tidak sanggup menahan haru, lalu beliau mulai bercerita, "Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Dia telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk saya, karena dia sakit setelah melahirkan buah hati kami. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang sakit. Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Allah diatas sajadah. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya ini".

(Di edit dan diceritakan kembali)

Taufik

Minggu, November 16, 2008

Sajadah Panjang

Setiap duduk diantara dua sujud saya selalu memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala diantaranya agar diberikan ampunan, kasih sayang, keluasan, hidayah dan kelimpahan rizqi, tapi saya seringkali melupakan …alladhina an’amta ‘alaihim. Saya selalu meminta apa yang saya inginkan tapi saya melupakan apa yang telah Allah berikan.

Saya menuntut pada agama yang mulia ini berbagai kelimpahan dan kemuliaan, saya seringkali numpang tenar dan menunggangi agama ini hanya semata mencari kemuliaan dunia, kedudukan dan kekayaan. Sementara saya tidak pernah memberikan apa yang dibutuhkan dalam menegakkan kalimat Allah ini. Banyak dari kawan-kawan yang mengaku muslim, mereka memanfaatkan keberislamannya demi tujuan-tujuan duniawi, sementara kalau ditanya mengenai apa yang telah mereka sumbangkan untuk Islam, mereka mengatakan itu bukan urusan mereka. Kesengsaraan saudara-saudara saya di belahan dunia lain dikatakannya sebagai akibat ulah mereka sendiri. Hmm.. bila ungkapan-ungkapan mereka saya nisbahkan ke dalam diri saya sendiri, sepertinya saya juga mudah berlepas tangan dari kewajiban saya sendiri, sementara saya selalu menuntut atas apa yang menjadi hak saya.

Hal ini membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Allah. Apakah saya dekat ataukah saya jauh dari Nya. Karena menurut Allah engkau jauh Aku jauh, engkau dekat Aku pun dekat. Jikalau benar saya merasa dekat kepada Allah, namun apakah Allah sendiri beranggapan sama. Dalam syair Arab disebutkan, banyak orang yang merasa jatuh cinta kepada Laila, Si A mengatakan mencintai Laila, Si B juga mengatakan mencintai Laila dan Si C pun mengatakan hal yang sama. Namun Laila sendiri tidak merasa mencintai mereka, karena mereka tak satupun yang memiliki kualifikasi untuk Laila cintai.

Sayapun seringkali merasa Allah mencintai saya sebagaimana saya mencintai Dia. Ketika Allah memberi saya dengan limpahan kenikmatan, saya mengatakan bahwa Allah mencintai saya, namun ketika saya diuji oleh Allah dengan sedikit kepayahan saya mengatakan Allah telah membenci saya. Atau sebaliknya saya hanya dekat kepada Allah tatkala saya memang membutuhkannya, namun saya selalu menghindari-Nya bila saya telah merasa cukup dengan yang saya butuhkan. Salah seorang sufi mengatakan ‘jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Allah, lihatlah posisi Allah di hati anda’.

Saya coba merenungkan perkataan sufi tersebut. Lalu sayapun melihat ke dalam hati saya, untuk memastikan apakah Allah benar-benar ada di hati saya. Bisakah saya merasakan getarannya tatkala Allah hadir? Entahlah.... Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Allah semestinya hadir dalam semua sikap dan perbuatan saya. Ketika di masjid saya tahu Allah hadir dalam hati saya. Ketika kumpul di majelis ta’lim sayapun tahu Allah hadir dan memperhatikan gerak duduk saya. Namun ketika saya keluar rumah, ketika saya berada di metromini maupun dalam aktivitas kampus, saya tak bisa memastikan apakah Allah masih berada di hati saya. Apakah Allah hadir ketika saya melirik pekerjaan teman sewaktu ujian? Apakah Allah hadir ketika mata saya menikmati "keindahan" yang bukan menjadi hak saya? Apakah Allah juga hadir ketika saya begitu asyik menyimak acara televisi sementara panggilan Allah lewat adzan saya abaikan?

Saya teringat sajadah panjang yang Bimbo dendangkan. Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang, dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya. Bukan untuk melupakan ketika saya tidak membutuhkannya. Mengapa Allah hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di atas sajadah, dan tiba-tiba Allah hilang ketika saya sudah menggulungnya?

Kuncinya tentu ada pada diri saya. Karena Allah tidak mungkin pergi dari seorang hamba yang selalu mendekatnya. ‘Aku jauh Engkau jauh dan aku dekat Engkaupun dekat’ yang berarti semuanya tergantung bagaimana saya.Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur'an, saya teringat satu ayat dalam surah Adz-Dzariyat, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". Sayang, penafsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Meskipun saya mengetahui bahwa semua aktivitas saya bisa bernilai ibadah bila saya meniatkannya, namun pada kenyataannya saya seringkali lupa. Saya masih suka bertengkar untuk hal-hal yang tidak jelas, saya masih marah untuk sesuatu yang sepele.

Sayang sekali, sajadah saya tidak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung tinggi, ke pusat-pusat perbelanjaan, ke tempat-tempat hiburan, bahkan ke dalam aktivitas-aktivitas kampuspun sajadah saya tak mampu membentang. Sajadah saya hanya membentang di dalam mushola atau bahkan hanya sebatas di dalam kamar saja. Saya selalu mencoba untuk mengulur-ulur sajadah saya hingga lebih panjang lagi, tidak hanya sebatas tempat sujud saya, tapi juga masuk ke ruang perkuliahan hingga dalam aktivitas sosial saya, yang pasti melingkupi seluruh gerak hidup saya.

Saya meyakini sajadah yang saya miliki tidak sepantasnya hanya dipakai untuk tafakur dalam kesendirian saja, melainkan juga saya gunakan ketika saya berada dalam keramaian. "Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Allah!" Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu...Saya tahu, bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Allah, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Allah selalu hadir di sekelilingnya.

Ya Allah, anugerahilah kepadaku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan anugerahi pula aku kemampuan untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah kebajikan bersinambung untukku pada anak keturunanku. sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al AhQaaf, 46:15).

Taufik

Sabtu, November 15, 2008

Terlanjur Cinta Indonesia

Kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahun salah seorang dosen. semula saya bingung apakah akan datang ataukah tidak. saya bayangkan acara itu akan dibanjiri suara musik dan kebebasan lainnya sebagaimana yg saya bayangkan. namun ternyata acaranya berbeda. kalau di Jawa seperti acara tirakatan malam 17 Agustus. kami berbicara kesana kemari saling tukar informasi tentang perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat dari berbagai belahan negara.

saat itu ada seorang bapak berusia 70 tahun, berperawakan gagah. saya diperkenalkan oleh tuan rumah kepadanya bahwa dia dulu pernah tinggal di Indonesia. tidak berapa lama kami terlibat pembicaraan yang cukup serius. dia menuturkan bahwa pada tahun 1953 dia bersama kedua orangtuanya hengkang dari Indonesia ke Belanda. dia bukan asli orang indonesia. kedua orangtuanya (ayah-ibunya) "indo", lahir dari pernikahan orang Belanda dengan orang Jawa. sehingga dia pun termasuk keturunan indo. karena kebijakan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, bahwa semua warga indo bukanlah warga Indonesia, melainkan warga Belanda. mereka yang termasuk indo dipaksa untuk hengkang dari negeri yang terlanjur mereka cintai, ke suatu negeri yang sama sekali tidak mereka ketahui, negeri Belanda.

Selanjutnya dia menceritakan kepediahannya sebagai imigran. benar memang mereka keturunan Belanda, tetapi mereka lahir di Indonesia. mereka terlanjur mengenal nasi sebagai makan kesehariannya. kini semua berubah. bahkan ada salah satu kenalannya sampai membenturkan kepala ke tembok berulang kali. ia merasa tertekan hidup di negeri kincir angin ini, ketertekanannya disebabkan karena sempitnya ruang gerak. dulu sewaktu tinggal di Indonesia, ia bekerja sebagai dokter. ia bisa berkeliling dari satu desa ke desa lain, ia bisa mengunjungi ke berbagai tempat tanpa ada yang melarang, tanpa ada yang membatasi ruang geraknya. Ia senang ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. namun di tempat tinggalnya yang baru ini, ia hanya diberi satu petak ruang yang sempit. dan pasien yang datangpun tidak seberapa. ia tidak bisa lagi mengunjungi daerah-daerah pelosok melewati berbagai sawah dan bukit. ia kini hanya berhadapan dengan kesendirian. itu semua membuatnya tertekan, hingga dia jatuh sakit beberapa kali.

'kami terlanjur cinta Indonesia', kata-kata itu berulangkali di katakan. seakan menyiratkan kepedihan dan penderitaan.
Pembicaraanpun semakin asyik, ketika ada beberapa tamu lain ikut nimbrung di dalamnya. salah seorang dari mereka menuturkan bahwa dia sebenarnya ingin kembali ke Indonesia, hanya saja usianya terlampau tua untuk tinggal mandiri di sana...

Kita Berbeda

Bila anda berkeliling Belanda dengan menggunakan kereta api, di sepanjang perjalanan ada yang menarik untuk diperhatikan, yaitu hamparan rumput yang menghijau yang menjadi "surga" bagi para ternak. Rumput yang menghiaju itu sengaja di sediakan untuk ternak-ternak si pemilik lahan. Ada beberapa jenis ternak yang bisa ditemukan seperti, sapi, domba dan kuda. Populasi sapi dan domba lebih dominan dibandingkan dengan kuda. Binatang-binatang itu sengaja di ternakkan oleh pemilik lahan untuk di ambil susu dan bulunya.

Binatang-binatang itu tiap hari digiring ke tanah lapang, dibiarkannya mereka makan sepuas-puasnya. Setiap saya melihat ke arah mereka, pasti mereka sedang makan. Kadang-kadang mereka tertidur "leyeh-leyeh" karena kecapean makan atau kekenyangan. sorenya mereka pulang ke kandang. malamnya tidur, paginya di ambil susunya, kadang sang jantan yang nakal terlihat mengejar-ngejar pasangan lawan jenisnya yang biasa mereka kawini tanpa ikatan yang sah sebagaimana manusia (KUA nya belum ada..hehe). lalu merekapun kembali ke padang rerumputan. setiap hari siklusnya selalu sama... antara makan, kenyang, tidur, makan, kenyang, tidur, dan seterusnya....

Sementara itu setiap hari saya rajin memperhatikan aktivitas masyarakat di sini. kebetulan apartemen saya menghadap persis di jalan. mereka kebanyakan tidak mengikatkan diri kepada suatu agama. sudah sekian lama Tuhan mereka lupakan. bahkan kalo ditanya "apa agama anda?" mereka akan menjawab: "agama? apa itu?" hasil obrolan saya dengan salah satu dari mereka adalah bahwa mayoritas keluarga dari masyarakat eropa di bangun bukan berasal dari ikatan pernikahan yang syah. mereka hanyalah sekawanan pasangan kumpul kebo yang mereka sebut sebagai pasangan samen wonen, bahkan ada seorang bapak yang dengan ringan hati menceritakan anaknya sudah samen wonen selama 15 tahun.

kalo anda jalan2 di sini anda akan banyak menemukan kebebasan itu, kalo di indonesia barangkali orang masih malu2 sehingga mereka menyembunyikan perbuatan buruk mereka, di sini, rasa malu yang dipunyai oleh mereka sudah tidak ada lagi. mereka bisa bermesraan di depan orang lain, tanpa ada rasa risih, malu dan sebagainya. mereka tidak kenal caranya bersuci, setelah buang air, mereka tidak kenal mana haram mana halal, mereka hidup secara individualistik.. kamu-kamu, aku-aku... antara tetangga kita tidak saling kenal...

kalo kita tarik garis lurus, dengan cerita sapi di atas dengan cerita di bawahnya... lantas muncul dalam benak saya... apa bedanya antara sapi dengan manusia... toh mereka sama2 digerakkan oleh hal2 yang tidak jauh berbeda. saya jadi teringat qaidah yang mengatakan "al-insanu khayawaanun natiq" manusia itu adalah binatang yang beraqal. kalo qaidah tadi hanya dimaknai secara sembrono terkait dengan fenomena di atas, yah benar yang membedakan mereka hanya sekedar berakal dan tidak berakal...

Tidak ada nilai-nilai ketuhanan yang mereka yakini lalu di perjuangkan, yang ada adalah nilai-nilai kemanusiaan tanpa adanya ikatan ketuhanan. mereka tidak mengenal adanya pahala dan dosa yang selama ini mengikat sikap dan perilaku kita. mereka bebas melakukan apapun yang penting tidak ada unsur paksaan atau kekerasan di dalamnya, yang orang-orang sering bilang asalkan tidak 'melanggar HAM'.

kita manusia, memang tidak sama dengan binatang. kita punya martabat, yang mana ketinggiannya bisa melampaui makhluk suci Allah: malaikat. kita juga punya akal untuk berfikir, telinga untuk mendengar, hati untuk merasa....oleh karena itu minimal gunakanlah rasa untuk merenungkan apakah kita selama ini seperti halnya binatang.. yang aktivitasnya sekedar: sarapan, ke kampus, makan, tidur, nonton tv, makan, nonton tv, tidur, kekampus dst... apakah rutinitas kita hanyalah itu? adakah terbetik dalam hati kita, sehingga terekam dalam ingatan, lalu menimbulkan keinginan untuk melakukan atau memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini?... sudahkah kita warnai dalam aktivitas kita untuk melakukan sesuatu bagi orang lain? untuk melakukan sesuatu bagi agamaku, melakukan sesuatu bagi orang tuaku, keluargaku...dan seterusnya.

Autumn,
Di awal waktu

Dariku Untukmu

Sahabatku...
aku telah menerima suratmu dalam suasana bahagia nan mengharu biru. aku tidak menyangka itu adalah dirimu, yang datang bersama angin musim dingin untuk menyapaku.

Engkau memang sahabatku yang selalu ada dalam setiap kondisiku, dan saat ini engkaupun bisa merasakan galaunya hatiku... sungguh ini suatu Rahmat dari Allah yang telah menggetarkan aliran rasa di hati kita, apa yang kurasakan engkau pun merasakannya jua. mudah-mudahan bukan saja kegalauanku yang bisa kau rasakan tetapi juga kebahagiaanku yang mestinya menjadi kebahagiaanmu.

Sahabatku, kalau boleh aku jujur kepadamu, ketakutanku bukanlah pada kesendirianku karena aku yakin Allah dan malaikatnya selalu mengawasiku, ketakutanku bukan pada bekunya suasana di musim dingin ini, karena doa-doa yang selalu engkau panjatkan untukku telah menghangatkan jiwaku. ketakutanku bukan pula pada kegagalan yang mungkin akan aku temukan di hadapanku nanti, karena bagiku kegagalan adalah bagian dari tahapan saja untuk mencapai kesuksesanku. Entahlah apakah ini ketakutan sebagaimana yang engkau katakan, ataukah ini kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, ataukah ini sekedar luapan perasaan yang terkadang naik dan kadang-kadang turun, sebagaimana keimanan kita yang "yaziidu wa yankusu". tetapi yang jelas sahabatku, pesanmu telah meredakan tangisku, dan mengembangkan senyumku.

Sahabatku,
Saat ini kita terpisah jarak yang begitu jauh, sehingga kita merasa kesulitan untuk saling mengunjungi. Namun sahabat..., jauhnya jarak tidak serta merta membut kita berbeda, kita tetap sama sahabatku, sama dalam keimanan, sama dalam nilai, dan sama dalam tujuan. Ingatkah engkau ketika aku membisikkan sesuatu di telingamu menjelang perpisahan kita? Bahwa keberangkatan kita ke negeri-negeri jauh, bukanlah semata-mata untuk mencari kesuksesan hidup dan kebahagiaan kita sendiri. keberangkatan kita adalah semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT, untuk menjadi qudwah bagi anak-anak kita dan generasi-generasi yang akan datang, serta untuk memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini, yaitu nilai-nilai Islam yang mulia. karena menurutku kehidupan seorang muslim adalah memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini, tanpa nilai-nilai yang kita yakini kita seperti seonggok jasad tanpa kemuliaan.

Sahabatku, kalau boleh jujur kepadamu... pada awalnya kesendirianku cukup berat dirasakan. Lingkungan baru, suasana baru, orang-orang yang baru, yang semuanya berbeda dengan duniaku sebelumnya. jauh dari orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku. tetapi kabar bahagia dari mereka dan darimu, selalu menjadi penguat langkahku. dan akupun sadar sesadar-sadarnya, bahwa beratnya langkah yang harus kutempuh saat ini tidaklah berarti dibandingkan dengan langkah para Shohabat Nabi yang mulia, mereka terusir dari kampung halamannya dan dihinakan oleh orang-orang dzalim di sekitarnya.

Sebagai penutup untuk suratku ini, aku ingin engkau tahu bahwa akupun selalu medoakan kebaikan bagimu. mendukungmu atas semua langkah-langkahmu. Pesanku untukmu sahabat, Janganlah risau atas keadaanku, sepanjang aku masih menggenggam erat agamaku. Semoga Allah SWT senantiasa mengiringi langkahku dan langkahmu, sahabatku.

Autumn,
Dalam keheningan

Mati Cara Orang-orang Gagah

Wahai orang-orang gagah...
Kami bisa memahami mengapa kalian memilih mati dengan cara seperti itu. Kalian tidak perduli dengan segala sangkaan; dan sebagai konsekuensi tidak mengakui hukum positif yang berlaku, kalian "menerima" apapun vonisnya; dan bahkan kalian "memilih" untuk di tembak tanpa mengenakan tutup mata. Itu membutuhkan nyali besar... hanyalah orang-orang seperti kalian yang bisa melakukannya...

kalian para suami dari para istri yang sangat kalian cintai dan istri2pun mencintai kalian. kalian para ayah dari anak-anak yang sangaaat kalian sayangi, melebihi rasa sayang kalian terhadap diri kalian sendiri, dan anak-anak kalianpun sayang dan bangga kepada ayah-ayah mereka. kalian para anak dari para orang tua, yang sangat kalian hormati dan muliakan dan para orang tua kalianpun sangat bangga kepada anak-anaknya yang telah menempuh jalan yang berbeda dari jalan-jalan orang kebanyakan.

kalian adalah orang-orang gagah yang memilih kehidupan "masa depan" dibandingkan kehidupan saat ini. lebih memilih kebahagiaan sejati dibandingkan kebahagiaan sesaat. kalian memilih "dihinakan di dunia" tapi dimuliakan di akhirat.

kematian bagi kalian bukanlah segalanya. kematian hanyalah sepenggal babak dari kehidupan yang kelak kalianpun pasti akan mengalaminya, dengan cara apapun. kalian orang-orang gagah lebih suka mempertahankan aqidah dan memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini meskipun peluru menembus dada-dada kalian.

wahai orang-orang gagah, kami kagum kepadamu, kami bangga kepadamu, kami akan selalu merindukan ketegasan sikapmu yang selalu berkata apa adanya, yang selalu menjadi tameng bagi kepengecutan kami. kepergian kalian akan kami ingat selamanya. akan kami tulis dengan tinta emas pada memory kami, akan kami ceritakan kepada semua orang, terutama kepada anak cucu kami, bahwa kami pernah hidup dan menyaksikan bagaimana orang-orang gagah memperjuangkan kebenaran agamanya.

kami yakin kepergian kalian bukanlah akhir dari perjuangan yang telah kalian mulai, kematian kalian adalah genderang bahwa perjuangan telah di mulai. kami yakin kelak akan lahir beribu orang seperti kalian, yang akan menjadi benteng ummat dari ketertindasan.

Selamat jalan orang-orang gagah..
Sampai bertemu kembali di lain waktu dan kesempatan. Semoga Allah Ta'ala menempatkan kalian pada barisan syuhada.

Taufik
Menjelang Waktu Isya'