Minggu, November 16, 2008

Sajadah Panjang

Setiap duduk diantara dua sujud saya selalu memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala diantaranya agar diberikan ampunan, kasih sayang, keluasan, hidayah dan kelimpahan rizqi, tapi saya seringkali melupakan …alladhina an’amta ‘alaihim. Saya selalu meminta apa yang saya inginkan tapi saya melupakan apa yang telah Allah berikan.

Saya menuntut pada agama yang mulia ini berbagai kelimpahan dan kemuliaan, saya seringkali numpang tenar dan menunggangi agama ini hanya semata mencari kemuliaan dunia, kedudukan dan kekayaan. Sementara saya tidak pernah memberikan apa yang dibutuhkan dalam menegakkan kalimat Allah ini. Banyak dari kawan-kawan yang mengaku muslim, mereka memanfaatkan keberislamannya demi tujuan-tujuan duniawi, sementara kalau ditanya mengenai apa yang telah mereka sumbangkan untuk Islam, mereka mengatakan itu bukan urusan mereka. Kesengsaraan saudara-saudara saya di belahan dunia lain dikatakannya sebagai akibat ulah mereka sendiri. Hmm.. bila ungkapan-ungkapan mereka saya nisbahkan ke dalam diri saya sendiri, sepertinya saya juga mudah berlepas tangan dari kewajiban saya sendiri, sementara saya selalu menuntut atas apa yang menjadi hak saya.

Hal ini membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Allah. Apakah saya dekat ataukah saya jauh dari Nya. Karena menurut Allah engkau jauh Aku jauh, engkau dekat Aku pun dekat. Jikalau benar saya merasa dekat kepada Allah, namun apakah Allah sendiri beranggapan sama. Dalam syair Arab disebutkan, banyak orang yang merasa jatuh cinta kepada Laila, Si A mengatakan mencintai Laila, Si B juga mengatakan mencintai Laila dan Si C pun mengatakan hal yang sama. Namun Laila sendiri tidak merasa mencintai mereka, karena mereka tak satupun yang memiliki kualifikasi untuk Laila cintai.

Sayapun seringkali merasa Allah mencintai saya sebagaimana saya mencintai Dia. Ketika Allah memberi saya dengan limpahan kenikmatan, saya mengatakan bahwa Allah mencintai saya, namun ketika saya diuji oleh Allah dengan sedikit kepayahan saya mengatakan Allah telah membenci saya. Atau sebaliknya saya hanya dekat kepada Allah tatkala saya memang membutuhkannya, namun saya selalu menghindari-Nya bila saya telah merasa cukup dengan yang saya butuhkan. Salah seorang sufi mengatakan ‘jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Allah, lihatlah posisi Allah di hati anda’.

Saya coba merenungkan perkataan sufi tersebut. Lalu sayapun melihat ke dalam hati saya, untuk memastikan apakah Allah benar-benar ada di hati saya. Bisakah saya merasakan getarannya tatkala Allah hadir? Entahlah.... Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Allah semestinya hadir dalam semua sikap dan perbuatan saya. Ketika di masjid saya tahu Allah hadir dalam hati saya. Ketika kumpul di majelis ta’lim sayapun tahu Allah hadir dan memperhatikan gerak duduk saya. Namun ketika saya keluar rumah, ketika saya berada di metromini maupun dalam aktivitas kampus, saya tak bisa memastikan apakah Allah masih berada di hati saya. Apakah Allah hadir ketika saya melirik pekerjaan teman sewaktu ujian? Apakah Allah hadir ketika mata saya menikmati "keindahan" yang bukan menjadi hak saya? Apakah Allah juga hadir ketika saya begitu asyik menyimak acara televisi sementara panggilan Allah lewat adzan saya abaikan?

Saya teringat sajadah panjang yang Bimbo dendangkan. Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang, dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya. Bukan untuk melupakan ketika saya tidak membutuhkannya. Mengapa Allah hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di atas sajadah, dan tiba-tiba Allah hilang ketika saya sudah menggulungnya?

Kuncinya tentu ada pada diri saya. Karena Allah tidak mungkin pergi dari seorang hamba yang selalu mendekatnya. ‘Aku jauh Engkau jauh dan aku dekat Engkaupun dekat’ yang berarti semuanya tergantung bagaimana saya.Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur'an, saya teringat satu ayat dalam surah Adz-Dzariyat, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". Sayang, penafsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Meskipun saya mengetahui bahwa semua aktivitas saya bisa bernilai ibadah bila saya meniatkannya, namun pada kenyataannya saya seringkali lupa. Saya masih suka bertengkar untuk hal-hal yang tidak jelas, saya masih marah untuk sesuatu yang sepele.

Sayang sekali, sajadah saya tidak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung tinggi, ke pusat-pusat perbelanjaan, ke tempat-tempat hiburan, bahkan ke dalam aktivitas-aktivitas kampuspun sajadah saya tak mampu membentang. Sajadah saya hanya membentang di dalam mushola atau bahkan hanya sebatas di dalam kamar saja. Saya selalu mencoba untuk mengulur-ulur sajadah saya hingga lebih panjang lagi, tidak hanya sebatas tempat sujud saya, tapi juga masuk ke ruang perkuliahan hingga dalam aktivitas sosial saya, yang pasti melingkupi seluruh gerak hidup saya.

Saya meyakini sajadah yang saya miliki tidak sepantasnya hanya dipakai untuk tafakur dalam kesendirian saja, melainkan juga saya gunakan ketika saya berada dalam keramaian. "Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Allah!" Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu...Saya tahu, bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Allah, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Allah selalu hadir di sekelilingnya.

Ya Allah, anugerahilah kepadaku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan anugerahi pula aku kemampuan untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah kebajikan bersinambung untukku pada anak keturunanku. sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al AhQaaf, 46:15).

Taufik

Tidak ada komentar: