Sabtu, November 15, 2008

Terlanjur Cinta Indonesia

Kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahun salah seorang dosen. semula saya bingung apakah akan datang ataukah tidak. saya bayangkan acara itu akan dibanjiri suara musik dan kebebasan lainnya sebagaimana yg saya bayangkan. namun ternyata acaranya berbeda. kalau di Jawa seperti acara tirakatan malam 17 Agustus. kami berbicara kesana kemari saling tukar informasi tentang perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat dari berbagai belahan negara.

saat itu ada seorang bapak berusia 70 tahun, berperawakan gagah. saya diperkenalkan oleh tuan rumah kepadanya bahwa dia dulu pernah tinggal di Indonesia. tidak berapa lama kami terlibat pembicaraan yang cukup serius. dia menuturkan bahwa pada tahun 1953 dia bersama kedua orangtuanya hengkang dari Indonesia ke Belanda. dia bukan asli orang indonesia. kedua orangtuanya (ayah-ibunya) "indo", lahir dari pernikahan orang Belanda dengan orang Jawa. sehingga dia pun termasuk keturunan indo. karena kebijakan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, bahwa semua warga indo bukanlah warga Indonesia, melainkan warga Belanda. mereka yang termasuk indo dipaksa untuk hengkang dari negeri yang terlanjur mereka cintai, ke suatu negeri yang sama sekali tidak mereka ketahui, negeri Belanda.

Selanjutnya dia menceritakan kepediahannya sebagai imigran. benar memang mereka keturunan Belanda, tetapi mereka lahir di Indonesia. mereka terlanjur mengenal nasi sebagai makan kesehariannya. kini semua berubah. bahkan ada salah satu kenalannya sampai membenturkan kepala ke tembok berulang kali. ia merasa tertekan hidup di negeri kincir angin ini, ketertekanannya disebabkan karena sempitnya ruang gerak. dulu sewaktu tinggal di Indonesia, ia bekerja sebagai dokter. ia bisa berkeliling dari satu desa ke desa lain, ia bisa mengunjungi ke berbagai tempat tanpa ada yang melarang, tanpa ada yang membatasi ruang geraknya. Ia senang ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. namun di tempat tinggalnya yang baru ini, ia hanya diberi satu petak ruang yang sempit. dan pasien yang datangpun tidak seberapa. ia tidak bisa lagi mengunjungi daerah-daerah pelosok melewati berbagai sawah dan bukit. ia kini hanya berhadapan dengan kesendirian. itu semua membuatnya tertekan, hingga dia jatuh sakit beberapa kali.

'kami terlanjur cinta Indonesia', kata-kata itu berulangkali di katakan. seakan menyiratkan kepedihan dan penderitaan.
Pembicaraanpun semakin asyik, ketika ada beberapa tamu lain ikut nimbrung di dalamnya. salah seorang dari mereka menuturkan bahwa dia sebenarnya ingin kembali ke Indonesia, hanya saja usianya terlampau tua untuk tinggal mandiri di sana...

Tidak ada komentar: