Selasa, November 18, 2008

Cinta-2

Beberapa orang tua juga menjejali anak-anaknya dengan seabrek kegiatan di luar sekolah, seperti memanggil guru privat untuk memberikan tambahan pelajaran di rumah, les piano, les tari, dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan alasan demi mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Padahal kalau mau jujur itu semua bukanlah untuk kebutuhan anak-anaknya melainkan kebutuhan orang tuanya. Orang tua juga suka memberikan apapun yang diminta oleh anak-anaknya. Pemberian inipun dilandasi karena rasa sayangnya pada sang anak. Hingga ketika anak sakit batuk dan dilarang dokter untuk meminum air es, tetapi demi memenuhi permintaan sang anak, orang tua terpaksa melanggar larangan itu, sekali lagi itu diberikan karena anak memintanya. Sesungguhnya bila orang tua menyadari apa yang ia berikan kepada anak tidak menjadikan kebaikan, justru akan menambah permasalahan. Tidak menyehatkan justru membinasakan. Tidak menyelesaikan masalah justru membuat atau bahkan memperparah masalah.

Mencintai perempuan yang sudah terikat rumah tangga pada dasarnya bukan memberikan kebahagiaan, meskipun yang dirasakan dari kedua pihak barangkali adalah “kebahagiaan”. Lebih tepatnya mungkin disebut keburukan berbalut kebahagiaan. Rasa cinta dari keduanya tidak akan membuat perubahan yang positif. Bahkan menambah permusuhan dan memperparah kondisi keluarga yang sebelumnya telah ada amasalah.

Cinta yang sejati selalu membawa pertumbuhan. Bukan bersifat posesif yang obsesif (keinginan memiliki dilandasi motivasi yang salah, yaitu hanya untuk menyenangkan diri sendiri). Yang dimaksud dengan pertumbuhan, yaitu: Cinta itu membawa kebaikan bagi seorang yang sedang mencintai dan bagi seorang yang dicintai. Tidak membuat seseorang tertekan, dipaksa untuk mencintai, atau mengorbankan sesuatu secara salah dengan alasan cinta.

Cinta kasih itu membuat dua pihak saling bahagia. Bila salah satu pihak atau kedua pihak menderita, itu bukan cinta kasih namanya. Ketika sepasang remaja dimabuk cinta sesungguhnya mereka sedang meneguk lemon beracun, rasanya manis, indah dirasa, namun sesungguhnya bisa merusak tulang-tulang persendian bahkan bisa menghentikan denyut jantung mereka. Komitmen percintaan yang dilakukan remaja diluar pernikahan akan berbanding terbalik dengan aktivitas-aktivitas positif lainnya. Yang tadinya suka membaca kini hanya melamun bila berjauhan dengan kekasihnya, yang semula gemar berdakwah, kini lidah terasa kelu untuk berkata, yang dulunya betah sholat lama-lama di masjid kini hanya beribadah secukupnya saja. Barangkali ini imbas dari dominansi syaitan dalam dirinya. Perasaan yang meluap-luap pada pasangan yang dimabuk cinta akan melenakan segalanya.

Dalam berbagai seminar bertemakan remaja, saya seringkali mendapat statemen bahwa cinta itu akan menumbuhkan motivasi belajar, meningkatkan need achievement, membuat hidup lebih bergairah dan sebagainya. Benarkah demikian? Memang belum ada riset yang membuktikan kebenaran statemen tersebut, namun menurut pengamatan saya terhadap realitas yang ada, belum pernah ada siswa atau mahasiswa yang meningkat prestasinya karena efek jatuh cinta. Karena perasaan yang meluap-luap dari dua sejoli yang sedang dimabuk cinta akan menumpulkan pikiran dan perasaan.

Dari penjelasan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa cinta yang sejati bukanlah perasaan meluap-luap yang menguap, atau hanya diukur dalam waktu yang singkat, tetapi cinta itu membutuhkan suatu proses. Cinta tak bisa diuji dalam keterburu-buruan, cinta membutuhkan pengenalan dan pengalaman yang panjang. Benarlah yang dikatakan oleh Katherine Anne Porter, "Cinta harus dipelajari, dan terus-menerus dipelajari kembali; tak ada kata akhir untuk itu" Dan apa yang dikatakan oleh Dr. Les Parrott dan Dr. Leslie Parrott pantas untuk disimak, "Cinta adalah suatu campuran yang aneh dari hal-hal yang bertentangan.

Di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kemarahan, kegairahan dan kebosanan, kestabilan dan perubahan, pembatasan dan kebebasan. Paradoks cinta yang paling mendasar adalah bahwa dua menjadi satu, namun tetap dua!" P. Herod mengatakan cinta adalah bagaikan sebuah pertandingan tenis kita tidak akan pernah menang terus menerus sebelum kita belajar untuk melakukan pukulan awal dengan baik.

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan cinta adalah buhulnya iman, dimana seorang hamba tidak akan masuk jannah tanpa cinta. Seseorang tidak akan selamat dari ancaman siksa Allah tanpa cinta. Maka hendaklah seseorang itu berperilaku atas dasar cinta. Lebih jauh beliau melihat bahwa cinta merupakan dasar dari perwujudan segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Tanpa cinta menurutnya proses kehidupan tidak akan terbangun dengan baik. Beliau juga mengungkapkan bahwa setiap yang hidup mesti memiliki cinta, kemauan dan perilaku serta setiap yang bergerak maka dasar yang menggerakkannya itu adalah cinta dan kemauan.

Ungkapan Ibnul Qayyim di atas diperkuat dengan sangat indah oleh Jalaluddin Rumy. Cinta bagi Rumy adalah segala-galanya. Alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta. Bahkan gravitasi bumipun terjadi karena cinta. Demikian pula proses alam yang lain. Melalui cinta dan kasih alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif, matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, berbunga, berbuah, berkembang dan seterusnya. Cinta adalah lautan tak bertepi, luas, dalam penuh dengan makna. Lebih lanjut Rumy mengatakan, andai tidak ada cinta maka alam ini tidak lagi mempesona, kicauan burung tidak lagi merdu, panorama alam tidak lagi indah, bahkan dunia akan membeku tanpa makna.

Subhanallah…, bila menyimak perkataan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dan Jalaluddin Rumy di atas betapa dahsyatnya makna cinta. Cinta lebih luas dari apa yang kita kira. Cinta lebih agung dari yang kita rasa. Cinta lebih suci dari apa yang kita lihat dan dari apa yang dipraktekkan para remaja. Sudahkah rasa cinta yang kita miliki itu sebagaimana di gambarkan oleh mereka berdua?

saat teringat yang dicintai

1 komentar:

Darin mengatakan...

assalamu'alaikum pak Dosen..
salam dari jakarta nih..
apa kabar, sehat..?